Minggu, 21 September 2014

JUDI DOMINO 99 ONLINE ituDomino


                                                           Judi Domino QQ Online ituDomino.net
Agen Domino QQ Online ituDomino.net
Perkembangan teknologi informasi yang sedemikian cepatnya telah membawa dunia memasuki era baru yang lebih cepat. Perkembangan yang pesat di era globalisasi saat ini sangat banyak memberikan manfaat di setiap lapisan manusia dan sekarang teknologi telah mencapai tingkat yang sangat mengagumkan jarak dan waktu sekarang ini bukan lagi menjadi permasalahan.

Dorongan teknologi memaksa manusia untuk berpikir keratif serta inovatif dalam memenuhi kebutuhan jaman. Tidak saja dalam dunia sosial media, informasi teknologi, bahkan dalam dunia judi kini berusaha melakukan inovasi untuk memenuhi kebutuhan manusia yang semakin kompleks. Dari hal ini, banyak web/situs mulai bermunculan untuk menawarkan permainan-permainan judi yang dibutuhkan manusia saat ini.
Kartu domino mungkin hal yang sudah sering kita dengar yang salah satu permainan kartu kecil yang memiliki garis tengah di pisahkan dengan angka 1 sampai 6 dengan jumlah kartu 28. Permainan judi ini biasanya banyak kita temui di kedai-kedai/tempat nongkrong. Banyak permainan yang bisa dimainkan dari kartu domino ini dan salah satu yang sering dimainkan adalah KIU KIU atau bisa dimaksudkan 99 dan mungkin semua orang tau untuk memainkannya.

ituDomino.net merupakan hasil dari perkembangan jaman teknologi informasi yang merupakan salah satu penyedia permainan judi JUDI DOMINO 99 ONLINE ituDomino Online terpercaya. Dimana para penikmat permainan kartu Domino 99 ini tidak perlu menghabiskan waktu pergi ke tempat kedai-kedai berjalan yang memakan tenaga. Apalagi jika anda pergi ke kedai-kedai untu bermai Domino 99 tidak ada orang di kedai tersebut kan jadinya kesal. ituDomino memberikan banyak pilihan mulai dari Judi Domino 99, Agen Domino 99, Domino 99 Online, Poker Domino, dan Judi Kasino. ItuDomino.net sangat memberikan kemudahan bagi anda penikmat Domino 99 dengan akses yang mudah aman dan terpercaya. Tanpa menunggu teman untuk di ajak main anda dapat mempersingkat waktu anda dengan mengakses ituDomino.net banyak pemain yang sudah menunggu anda disana.

Dengan doposit yang terjangkau hanya dengan modal 50 ribu rupiah anda suda dapat bermain judi Domino 99 dan penarikan yang mudah hanya butuh 5 menit maka uang hasil permainan anda dapat dinikmati. Kenyamanan serta keamanan adalah hal yang ada perlu prioritaskan dan anda tak perlu khawatir iniDomino.net sangat menjaga kerahasiaan data serta kepercayaan anda. Dengan layanan Live Chat 24 jam siap membantu anda jika anda membutuhkan bantuan atau arahan.

                                                      Agen Domino QQ Online ituDomino.net
Judi Domino QQ Online ituDomino.net
Jika anda salah satu pecinta permainan kartu kecil ini saya sarankan anda untuk mengakses ituDomino.net dan saya rasa anda tidak akan menyesal jika anda mengakses website tersebut. Dan jangan lupa ajak teman-teman untuk menguji kemampuan teman anda dengan satu meja permainan. Jika anda binggung untuk memulainya anda langsung bisa bertanya dengan Live Chat yang ada di website iniDomino.net


Artikel yang saya lombakan di KONTES SEO

Minggu, 07 September 2014

iniPoker.net JUDI POKER DOMINO QQ ONLINE TERPERCAYA INDONESIA

Kontes SEO inipoker                            Official inipoker                               Jackpot inipoker
Judi Domino QQ Online iniPoker.net
Perkembangan teknologi informasi yang sedemikian cepatnya telah membawa dunia memasuki era baru yang lebih cepat. Perkembangan yang pesat di era globalisasi saat ini sangat banyak memberikan manfaat di setiap lapisan manusia dan sekarang teknologi telah mencapai tingkat yang sangat mengagumkan jarak dan waktu sekarang ini bukan lagi menjadi permasalahan.

Dorongan teknologi memaksa manusia untuk berpikir keratif serta inovatif dalam memenuhi kebutuhan jaman. Tidak saja dalam dunia sosial media, informasi teknologi, bahkan dalam dunia judi kini berusaha melakukan inovasi untuk memenuhi kebutuhan manusia yang semakin kompleks. Dari hal ini, banyak web/situs mulai bermunculan untuk menawarkan permainan-permainan judi yang dibutuhkan manusia saat ini.

INIPOKER.NET Judi Domino 99 Online Terpercaya Indonesia merupakan salah satu website judi online terpercaya yang berkembang di Indonesia. Banyak fitur-fitur yang disediakan untuk memanjakan untuk para pengguna judi online. Untuk para pemula mungkin masih banyak yang ragu untuk melakukan permainan judi lewat online, karna tak jarang banyak website-website tidak bertanggung jawab menawarkan permainan judi yang akhirnya merugikan pengguna.

Saya merupakan salah satu korban dari website yang tidak bertanggung jawab dan pada akhirnya membuat saya untuk antisipasi dalam memilih permainan judi online.


INIPOKER.NET merupakan website yang selalu menjaga kepercayaan, keamanan, dan kenyamanan penggunanya dan menjadikan website INIPOKER.NET sebagai tempat permainan saya. Kemudahan, kepercayaan, dan kenyamanan yang membuat saya untuk memilih INIPOKER.NET. Dimana chat dari web ini selalu standbay untuk memberikan arahan tanpa menunggu antri seperti web lain.

Judi Poker Online iniPoker.net
Poker merupakan games yang baru saya kenal sejak smk kira-kira sejak 7 tahun yang lalu dimana permainan ini saya mainkan lewat salah satu sosial media mungkin semua orang sudah mengenal nama website dari sosial media tersebut apa lagi untuk pencinta poker. Kata chip adalah hasil yang di dapat dari permainan poker ini.

Seiring perkembangan jaman tadi semua dapat diubah, chip yang dulu saya perjuangkan sampai begadang mungkin kini sudah tidak berlaku lagi. Kini dapat diganti dengan chip yang sebenarnya “uang”. Chip yang bisa kita tambah dan kita tarik dalam bentuk uang itu pun jika ada uang anda.

Dengan deposit min 20.000 di INIPOKER.NET kita sudah dapat memainkan permainan yang ada. Jikalau dibandingkan dengan yang lain untuk deposit 20.000 mungkin tidak ada di website yang lain. Ini juga menambah ketertarikan saya selalu bermain di INIPOKER.NET, dimana kebanyakan deposit min diatas 100.000. Untuk sistem penarikan INIPOKER.NET hanya membutuhkan waktu 5 menit tidak butuh proses yang lama untuk melakukan whitdraw.


Saya dari tadi kok bahas games poker aja yaaa,,, untuk permainan domino nya juga nggak kalah seru di INIPOKER.NET

Artikel yang saya lombakan di KONTES SEO

Minggu, 06 April 2014

WANITA HEBAT INDONESIA “INDOENSIA HEBAT”


Fisiologi manusia sepanjang sejarah telah dipengaruhi dan dibentuk oleh dimensi sosial-budaya hubungan antar manusia dalam peradaban. Sementara budaya dan ideologi juga dibentuk oleh manusia melalui pertarungan wacana yang panjang dan disosialisasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya demikian pula dengan pemahaman gender. Diskriminasi perempuan patut dicatat dan seyogyanya menjadi kesadaran khalayak dalam menelusuri literatur seputar gender dan politik. Bersyukur bagi wanita di Indonesia tidak seperti wanita-wanita di negara India, Pakistan, Somalia atau Afganistan yang tidak begitu menghargai figur sosok wanita.

Hal ini ditandai banyaknya wanita-wanita hebat Indonesia yang mulai dan dapat menunjukan siapa diri mereka. Kehebatan mereka bukan saja melebihi pria, tetapi juga dapat merubah suatu daerah, merubah negara, dan juga dapat merubah dunia. Wanita-wanita hebat Indonesia mulai muncul mulai dari jaman kolonial Belanda. Salah satu dari wanita hebat Indonesia yang lahir di jaman kolonial Belanda adalah R.A Kartini. Wanita hebat Indonesia yang lahir pada 21 April 1879 ini menjadi inspirasi untuk untuk semua para wanita.

Dari jaman ke jaman Indonesia telah melahirkan banyak Kartini-Kartini hebat lain yang menunjukan Indonesia semakin hebat di mata dunia dengan kehadiran wanita-wanita hebat ini. Khususnya dijaman reformasi ini, salah seorang wanita hebat Indonesia yang lahir di Kediri, 20 Oktober 1961 mulai menunjukan jati dirinya sebagai wantia Indonesia hebat. Awal karir perjalanan wanita hebat Indonesia ini menjabat sebagai Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Bappeko Surabaya pada tahun 1997 sampai tahun 2000. Sebelum maju sebagai Walikota Surabaya jabatan terakhir wanita hebat Indonesia ini atau wanita yang memiliki nama Ir. Tri Rismaharini, M.T. adalah sebagai  Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan Kota Surabaya.

Ibu Risma sapaan dari wanita hebat ini sebelum maju sebagai Walikota Surabaya, Ia menjalankan tugas-tugas dan tanggung jawab dari jabatannya dengan baik. Alumnus Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini Ia menggantikan Bambang Dwi Hartono yang kemudian menjabat sebagai wakilnya hingga resmi mengundurkan diri pada 14 Juni 2013. Mereka diusung oleh partai PDI-P dan memenangi pilkada dengan jumlah suara 358.187 suara atau sebesar 38,53 persen. Pasangan ini dilantik pada tanggal 28 September 2010.

Wanita yang berzodiak Scorpion ini telah banyak merubah wajah Kota Surabaya dengan tanggan dingginnya. Tak hanya dapat merubah wajah Kota Surabaya sistem dan pola kehidupan masyarakat Kota Surabaya pun dapat diubah oleh wanita hebat Indonesia ini, hal ini dapat kita lihat ketika Ia memperjuangkan untuk menutup gang Dolly tempat prostitusi terbesar se-Asia Tenggara dan merubah cara hidup masyarakat yang berpenghasilan dari tempat prostitusi tersebut. Segudang prestasi pun yang Ia berikan lagi kepada Kota Surabaya sebagai bukti upaya dari hasil kerja keras untuk mengubah Kota Surabaya menjadi kota yang terbaik partisipasinya se-Asia Pasifik pada tahun 2012 versi Citynet.

Perestasi lain yang Ia berikan untuk Kota Surabaya, Surabaya pun menjadi peraih tiga kali piala Adipura secara bertutut-turut yang diawali pada tahun 2011 hingga tahun 2013. Ibu Risma menjalankan roda pemerintahannya tidak lagi menggunakan lembaran kertas ber-rim-rim untuk menetapkan kebijakan proyek-proyek pembangunan semua dengan sistem online, data kependudukan, orang miskin dan data lainnya menggunakan sistem elektronik online, dengan maksud agar lebih mudah mengontrol pengeluaran dinas-dinas dimana Ia menerapkan diseluruh sektor. Tujuan lain sistem e-goverment yang diterapkan istri dari Djoko Saptoaji adalah untuk meminimalisir tindakan suap dan korupsi yang bisa saja dilakukan stafnya.

Tidak saja membuka mata masyarakat Indonesia akan kehebatan dan kerja keras wanita Indonesia hebat ini. Berbagai penghargaan pun Ia dapatkan dari luar, dimana penghargaan tingkat Asia Pasifik berikutnya diraih pada tahun 2013 tepatnya bulan Oktober 2013 melalui penghargaan Future Goverment Awards 2013. Surabaya pun menyabet dua kategori sekaligus yaitu sebagai data center dan inklusi digital dengan menyisihkan 800 kota di seluruh Asia Pasifik. Tak heran jika karena prestasinya bila Ia kemudian memperoleh penghargaan sebagai walikota terbaik Asia Pasifik.

Dari sekian banyak prestasi yang Ia hasilkan karena kerja kerasnya penghargaan-penghargaan lain terus mengalir kepadanya. Wanita hebat Indonesia ini bukan saja dibanggakan masyarakat Surabaya tetapi juga seluruh masyarakt Indonesia. Kebanggaan bagi masyarakat Indonesia akan prestasinya belakangan ini Walikota Kota Surabaya Tri Rismaharini bakal membawa tiga keunggulan Kota Surabaya ke London yang nantinya akan dipresentasikannya pada 15-18 April 2014 untuk memperebutkan penghargaan sebagai Future City dalam London Leader Summit 2014.

Masyarakat Indonesia khususnya penulis akan mendukung dan mendoakan agar wanita hebat Indonesia ini dapat memenangkan penghargaan Future City dalam London Leader Summit 2014. Apa yang saya ungkapkan adalah sebuah alasan Bu Risma ini menjadi inspirasi lahirnya pemimpin baru yang berkualitas tanpa melihat latar belakang gender atau pun lainnya dan patut kita BENCI (benar-benar cintai). Bukankah pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya, sementara rakyatnya juga mencintainya. Dan pemimpin yang mendoakan rakyatnya, begitu juga rakyat yang selalu berdoa untuk pemimpinnya. 
doa dari saya


Jumat, 03 Januari 2014

Tidur Larut Malam Penyebab Kanker Hati

Tidur Larut Malam Penyebab Kanker Hati. Penemuan terbaru mengenai kanker hati! Jangan Tidur Terlalu Malam ! Para dokter di National Taiwan Hospital baru-baru ini mengejutkan dunia kedokteran karena ditemukannya kasus seorang dokter muda berusia 37 tahun yang selama ini sangat mempercayai hasil pemeriksaan fungsi hati (SGOT, SGPT) ,tetapi ternyata saat menjelang Hari Raya Imlek diketahui positif menderita kanker hati sepanjang 10 cm!!.

Selama ini hampir semua orang sangat tergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index).. Mereka menganggap bila pemeriksaan hasil index yang normal berarti semua OK..
Kesalahpahaman macam ini ternyata juga dilakukan oleh banyak dokter specialis, benar-benar mengejutkan, para dokter yang seharusnya memberikan pengetahuan yang benar pada masyarakat umum, ternyata memiliki pengetahuan yang tidak benar.

Pencegahan kanker hati harus dilakukan dengan cara yang benar. Tidak ada jalan lain kecuali mendeteksi dan mengobatinya sedini mungkin, demikian kata dokter Hsu Chin Chuan. Tetapi ironisnya, ternyata dokter yang menangani kanker hati juga bisa memiliki pandangan yang salah, bahkan menyesatkan masyarakat, inilah penyebab terbesar kenapa kanker hati sulit untuk disembuhkan.

Saat ini ada pasien dokter Hsu yang mengeluh bahwa selama satu bulan terakhir sering mengalami sakit perut dan berat badannya turun sangat banyak. Setelah dilakukan pemeriksaan supersound baru diketemukan adanya kanker hati yang sangat besar, hampir 80% dari livernya (hati) sudah termakan habis. Pasien sangat terperanjat, “Bagaimana mungkin? Tahun lalu baru melakukan medical check-up dan hasilnya semua normal. Bagaimana mungkin hanya dalam waktu 1 tahun yang relative singkat dapat tumbuh kanker hati yang demikian besar?”

Ternyata check-up yang dilakukan hanya memeriksa fungsi hati. Hasil pemeriksaan juga menunjukkan “ normal “. Pemeriksaan fungsi hati adalah salah satu item pemeriksaan hati yang paling dikenal oleh masyarakat. Tetapi item ini pula yang paling banyak disalahpahami oleh masyarakat kita ( Taiwan karena penulis berdomisili disana, tetapi juga termasuk masyarakat Indonesia salah memahami). Pada umumnya orang beranggapan bahwa bila hasil index pemeriksaan fungsi hati menunjukkan angka normal berarti tidak ada masalah dengan hati.

Tetapi pandangan ini mengakibatkan munculnya kisah-kisah sedih karena hilangnya kesempatan mendeteksi kanker sejak stadium awal. Dokter Hsu mengatakan, SGOT dan SGPT adalah enzim yang paling banyak ditemui didalam sel-sel hati. Bila terjadi radang hati atau karena satu atau sebab lain sehingga sel-sel hati mati, maka SGOT dan SGPT akan lari ke luar. Hal ini menyebabkan kandungan SGOT dan SGPT didalam darah meningkat. Tetapi tidak adanya peningkatan angka SGOT dan SGPT bukan berarti tidak terjadi pengerasan hati atau tidak adanya kanker hati. Bagi banyak para penderita radang hati , meski kondisi radang hati mereka telah berhenti, tetapi didalam hati (liver) mereka telah terbentuk serat-serat dan pengerasan hati. Dengan terbentuknya pengerasan hati, maka akan mudah sekali untuk timbul kanker hati.

Selain itu, pada stadium awal kanker hati, index hati juga tidak akan mengalami kenaikan. Karena pada masa-masa pertumbuhan kanker, hanya sel-sel di sekitarnya yang diserang sehingga rusak dan mati. Karena kerusakan ini hanya secara skala kecil maka angka SGOT dan SGPT mungkin masih dalam batas normal, katakanlah naik pun tidak akan terjadi kenaikan tinggi. Tetapi oleh karena banyak orang yang tidak mengerti akan hal ini sehingga berakibat terjadilah banyak kisah sedih.
Penyebab utama kerusakan hati adalah :
  1. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang adalah penyebab paling utama.
  2. Tidak buang air besar pada pagi hari.
  3. Pola makan yang terlalu berlebihan (Daging panggang, sate, dan gorengan / minyak goreng yang tidak sehat. Sedapat mungkin kurangi penggunaan minyak goreng untuk menggoreng makanan, hal ini juga berlaku meski menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil....)
  4. Masakan yang digoreng harus dimakan habis saat itu juga, jangan disimpan..
  5. Tidak makan pagi.
  6. Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan atau bahkan Narkoba.
  7. Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan (penyedap rasa), zat pewarna, pemanis buatan.
  8. Mengkonsumsi masakan mentah atau dimasak ½ matang.
  9. Merokok atau menjadi perokok pasif
Berikut ini adalah jadwal operasional tubuh;  
Malam hari pukul 21.00 – 23.00  (Waktu untuk pembuangan zat-zat tidak berguna/beracun (de-toxin) di bagian system antibody (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu ini seharusnya dilalui dengan suasana tenang atau mendengarkan musik (lebih baik lagi bila sudah tidur). Bila saat itu seorang ibu rumah tangga masih dalam kondisi yang tidak santai. Seperti misalnya mencuci piring atau mengawasi anak belajar, hal ini dapat berdampak negatif untuk kesehatan.

Malam hari pukul 23.00 – dini hari 01.00 (Waktu pada saat proses de-toxin di bagian hati, harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas). Dini hari 01.00 – 03.00 (Waktu untuk memproses de-toxin di bagian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur pulas.

Dini hari 03.00 – 05.00 (Waktu untuk de-toxin di bagian paru-paru, sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (de-toxin) telah mencapai saluran pernapasan, maka tidak perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran. Bagi perokok pembersihan berlangsung dengan tidak sempurna.

Pagi pk 05.00 – 07.00 (Waktu untuk de-toxin di bagian usus besar, harus buang air besar). Pagi pukul 07.00 – 09.00 (Waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, harus makan pagi. Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pukul 06.30. Makan pagi sebelum pukul 07.30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya. Bagi mereka yang tidak makan pagi harap mengubah kebiasaannya ini, bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi hingga pukul 9-10 daripada tidak makan sama sekali.

Harus diketahui, tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat yang tidak berguna. Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 4 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah. Sebab itulah, tidurlah yang nyenyak dan jangan begadang.

Sumber : http://forum.kompas.com

Selasa, 17 Desember 2013

LITTLE STORY ABOUT MY HOMETOWN "DURI"



DIBALIK ATAS MINYAK BAWAH MINYAK
Atas minyak bawah minyakmerupakan kata yang tak asing lagi di telinga masyarakat kecamatan Mandau. Salah satu kecamatan yang berada di wilyah provinsi Riau tepatnya berada di kabupaten Bengkalis. Duri yang merupakan ibu kota kecamatan Mandau memiliki potensi sumber daya alam sangat melimpah baik yang berada di permukaan maupun dibawah permukaan tanah. Daerah dengan rata-rata produksi 400.000-500.000 barel perhari atau penyumbang sekitar 60% produksi minyak mentah Indonesia ini juga merupakan penghasil bahan mentah minyak goreng, dimana sekitar 42% daerah kecamatan Mandau ditanami oleh kelapa sawit.Namun tak sebanding dengan pelayanan infrastruktur yang diberikan kepada petani kelapa sawit jika kita melihat hasil dari potensi keuntungan sumber daya alam yang diperoleh pemerintah daerah.

Sebagai putra daerah desa Balai Raja, kelurahan Pematang Pudu salah satu kelurahan yang berada di kecamatan Mandau saya melihat sangat memperihatinkannya pelayanan yang diberikan pemerintahan daerah setempat kepada petani kelapa sawit di daerah saya tepatnya berada di kelurahan Pematang Pudu desa Balai Raja. Salah satu infrastruktur yang membuat saya perihatin adalah infrastruktur jalan khususnya jembatan-jembatan yang berada di desa Balai Raja. Setiap musim penghujan maka muncullah permasalahan bagi masyarakat desa Balai Raja.

Permasalahan Petani Kelapa Sawit
Permasalahan pertama yang harus dihadapi masyarakat adalah sulitnya untuk mengangkut kelapa sawit dari desa Balai Raja dikarenakan tektur tanah lempung serta tanah liat sehingga kendaraan-kendaraan pengangkut kelapa sawit sangat susah untuk mengangkut buah kelapa sawit para petani yang berada di dalam desa Balai Raja, dan terlebih ketika jembatan-jembatan yang berada di desa Balai Raja hanyut oleh derasnya arus air maka maka semakin buruklah permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat. Tak jarang buah kelapa sawit petani busuk akibat tidak adanya truk pengangkut yang mau mengangkut buah petani di karanakan jalan yang tidak dapat dilalui.

Permasalahan kedua yang mucul adalah turunnya nilai jual buah kelapa sawit itu sendiri, dikarenakan sulitnya para agen-agen kelapa sawit untuk mengangkut buah kelapa sawit petani. Tak jarang truk-truk agen kelapa sawit terpuruk (lengket) di jalan bahkan terguling ke sungai atau masuk ke paret jalan. Sehingga tingginya biaya transportasi pengangkut buah kelapa sawit yang dirasakan agen-agen kelapa sawit dan mengharuskan para agen untuk mengurangi harga buah kelapa sawit petani. 

Dalam hal ini saya tidak menaruh kecawa kepada para agen buah kelapa sawit desa Balai Raja, kekecewa saya kepada pemerintah setempat yang tidak adanya perhatian sedikitpun  terhadap infrastruktur jalan kelurahan Pematang Pudu khususnya desa Balai Raja. Jika kita melihat kebelakang hasil pendapatan dari potensi sumber daya alam daerah tak tanggung-tanggung jumlah yang masuk ke pendapatan asli daerah (PAD). Keadaan yang terjadi seperti di kelurahan Pematang Pudu khususnya desa Balai Raja sungguh sangat tidak layak terjadi di daerah yang memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah atau daerah yang sering disebut atas minyak bawah minyak.

Proposal Penelitian : Penelitian Evaluasi Kebijakan



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki sumber daya kelautan yang melimpah. Sumberdaya kelautan merupakan aset penting bagi bangsa Indonesia dikarenakan Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar luas wilayahnya adalah perairan. Sebagai negara kepulauan, tentunya Indonesia memiliki banyak wilayah kepesisiran yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia, baik wilayah yang dibatasi oleh laut terbuka maupun laut tertutup. Wilayah kepesisiran merupakan wilayah pertemuan antara daratan dan lautan, yang memiliki batas baik ke arah darat maupun ke arah laut. Wilayah pesisir merupakan daerah peralihan antara ekosistem daratan dan lautan yang saling bergantung satu sama lain.
Oleh karena itu, wilayah pesisir sangat penting dan perlu dikelola serta dijaga kelestariannya. Pengelolaan wilayah pesisir tidak lepas dari pemanfaatan lahan yang terdapat di suatu wilayah pesisir. Pemanfaatan lahan pada wilayah pesisir yang sesuai dengan kondisi fisik dan biota yang terdapat di dalamnya tidak akan menimbulkan masalah yang berarti. Akan tetapi, apabila pemanfataan lahan wilayah pesisir tidak sesuai dengan peruntukannya, maka akan memberikan dampak cukup besar bagi kelestarian ekosistem pesisir dan kehidupan masyarakatnya. Ketidaksesuaian pemanfaatan lahan wilayah pesisir dengan peruntukannya dipengaruhi oleh kepentingan dan kebutuhan masyarakat untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Pemanfaatan lahan wilayah pesisir didominasi oleh lahan tambak dan hutan mangrove. Hutan mangrove digunakan sebagai ekosistem pelindung pantai. Akan tetapi, dengan semakin meningkatnya tuntutan ekonomi dan pesatnya pembangunan menjadi faktor penyebab munculnya fenomena konversi lahan mangrove menjadi lahan tambak, industri, permukiman, pelabuhan dan sektor pariwisata.
Sektor pariwisata merupakan salah satu potensi ekonomi kerakyatan yang perlu dikembangkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah. Hal ini dilakukan secara menyeluruh dan merata sehingga perlu adanya pembinaan yang terarah dan terkoordinir. Di samping itu, konsep tentang pariwisata mencakup tentang upaya pemberdayaan, usaha pariwisata, objek dan daya tarik wisata serta berbagai kegiatan dan jenis usaha pariwisata. Kegiatan atau aktivitas pariwisata pada perkembangannya telah menjadi industri pariwisata dan merupakan salah satu sektor yang dapat memberikan keuntungan secara ekonomi. Di negara sedang berkembang seperti Indonesia, sektor pariwisata dijadikan sebagai salah satu sumber devisa negara maupun devisa daerah.
Sumatera Utara adalah daerah yang pantas untuk sebagai tujuan wisata, mulai dari wisata alam yang memiliki panorama yang indah, wisata kuliner sampai dengan wisata sejarah yang memiliki berbagai situs yang tersebar diwilayah Sumatera Utara. Dalam hal ini tak terlepas dari salah satu kabupaten di Sumatera Utara sebagai salah satu tujuan wisata yang patut diperhitungkan sebagai tujuan wisata yaitu Kabupaten Serdang Bedagai.
Kabupaten Serdang Bedagai merupakan Kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten induknya yakni Kabupaten Deli Serdang. Kabupaten Serdang Bedagai memiliki iklim tropis dimana kondisi iklimnya hampir sama dengan kelembapan udara per bulan sekitar 84%, curah hujan berkisar antara 30 sampai dengan 340 mm per bulan dengan periodik tertinggi pada bulan Agustus–September, hari hujan per bulan berkisar 8-26 hari dengan periode hari hujan yang besar pada bulan Agustus–September tiap tahunnya. Temperatur udara perbulan minimum 23,37° C dan maksimum 32,2° C. Kondisi ini menjadikan daerah Kabupaten Serdang Bedagai sangat berpotensial untuk pengembangan perkebunan, perikanan  (pertambakan),  pertanian pangan, industri, pariwisata, perhubungan darat, dan perdagangan.
Kabupaten Serdang Bedagai menawarkan pesona wisata bahari dan wisata alam yang menakjubkan. Pantai yang berada di Kabupaten Serdang Bedagai memiliki panjang kurang lebih 95 km. Hingga saat ini tercatat ada 7 pantai yang merupakan lokasi objek wisata bahari yang terdapat di Kabupaten Serdang Bedagai yang telah memberikan pemasukan PAD Kabupaten Serdang Bedagai, salah satu contohnya Pantai Mutiara 88 Desa Kota Pari Kecamatan Pantai Cermin sekitar 43 Km dari Kota Medan Kabupaten Serdang Bedagai, Pantai Gudang Garam, Pantai Pondok Permai, Pantai Cermin Theme Park, Pantai Kuala Putri, Pantai Klang, dan Pantai Sialang Buah.
Pemanfaatan kawasan pantai memberikan dampak yang berbeda baik terhadap sumberdaya alam maupun bagi masyarakat. Salah satu pemanfaatan kawasan pesisir adalah untuk kegiatan wisata. Kegiatan wisata memberikan kontribusi yang besar dalam peningkatan pendapatan baik masyarakat maupun pemerintah daerah setempat apabila pengelolaannya dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Paradigma kegiatan wisata dikawasan pantai saat ini lebih mengutamakan pada keuntungan ekonomi, yaitu bagaimana menarik wisatawan sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem pengelolaan kawasan pantai yang tepat dengan mengedepankan aspek kelestarian lingkungan demi terwujudnya kawasan wisata pesisir pantai Serdang Bedagai sebagai objek wisata andalan di Kabupaten Serdang Bedagai sesuai dengan Perda Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Objek Wisata Pesisir Pantai Dan Sungai Di Kabupaten Serdang Bedagai. Dimana salah tujuan dari pembentukan Perda tersebut tak lain adalah untuk meningkatkan perekonomian masyarakatnya.
1.2  Perumuasan Masalah
Rumusan masalah merupakan bagian pokok  dari kegiatan penelitian, sehingga perumusannya perlu tegas dan jelas agar proses penelitian bisa benar-benar terarah dan terfokus ke permasalahan yang jelas. Rumusan masalah juga diperlukan untuk mempermudah menginterpretasikan data dan fakta yang diperlukan dalam suatu penelitian.
Dari pernyataan diatas maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sejauh mana dampak pengembangan pariwisata pesisir terhadap tingkat perekonomian masyarakat pesisir Kabupaten Serdang Bedagai.
1.3 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui bagaimana cara pengelolaan wisata pesisir pantai yang dilakukan Kabupaten Serdang Bedagai
2.      Untuk mengetahui sejauh mana dampak pengembangan atau pengelolaan wisata pesisir pantai terhadap tingkat perekonomian masyarakat pesisir Kabupaten Serdang Bedagai.
1.4   Manfaat dan Kegunaan
Manfaat dan kegunaan yang dapat diharapkan dari penelitian ini antara lain :
1.      Dapat memberikan informasi kepada pemerintah maupun masyarakat sebagai bahan untuk mengevaluasi kebijakan Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 9 Tahun 2008 Tentang PENGELOLAAN OBJEK WISATA PESISIR PANTAI  DAN SUNGAI DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI.
2.      Dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang akan mempelajari atau membahas mengenai sejauh mana pengelolaan objek wisata pesisir di Kabupaten Serdang Bedagai.
3.      Dapat memberikan sedikit informasi output dan outcome dari Perda Serdang Bedagai Nomor 9 Tahun 2008 Tentang EVALUASI DAMPAK PENGELOLAAN OBJEK WISATA PESISIR PANTAI DAN SUNGAI DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI.
BAB II
TELAAH PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
2.1 Telaah Pustaka
2.1.1 Kebijakan Publik
2.1.1.1 Pengertian Kebijakan Publik
Kebijakan publik berasal dari terjemahan public policy, berikut kami akan jelas apa yang dimaksud public dan policy. Islamy (1996:1.7) menerjemahkan kata public kedalam bahasa Indonesia sangat susah misalnya diartikan masyarakat, rakyat, umum dan negara.  Namun kebanyakan penulis buku menerjemahkannya sebagai “publik” saja seperti terjemahan Public Policy yaitu kebijakan publik.  Kata public mempunyai dimensi arti yang agak banyak, secara sosiologi kita tidak boleh menyamakannya dengan masyarakat. Perbedaan pengertiannya adalah masyarakat diartikan sebagai sistem antar hubungan sosial dimana manusia hidup dan tinggal bersama-sama.  Di dalam masyarakat tersebut terdapat norma-norma atau nilai-nilai tertentu yang mengikat dan membatasi kehidupan anggota-angotanya.  Dilain pihak publik diartikan sebagai kumpulan orang-orang yang menaruh perhatian, minat atau kepentingan yang sama. Tidak ada norma/nilai yang mengikat/membatasi perilaku public sebagaimana halnya pada masyarakat, karena public sulit dikenali sifat-sifat kepribadiannya (indentifikasinya) secara jelas.  Satu yang menonjol adalah mereka mempunyai perhatian atau minat yang sama (Islamy, 1996:1.6).
Jika kebijakan publik dipahami sebagai tindakan yang dilakukan oleh pemerintah, maka menurut Winarno (2008:24), minat untuk mengkaji kebijakan publik telah berlangsung sejak amat lama, bahkan sejak zaman Plato dan Aristoteles, walaupun saat itu studi mengenai kebijakan publik masih terfokus pada lembaga-lembaga negara saja. Ilmu politik tradisional lebih menekankan pada studi-studi kelembagaan dan pembenaran filosofis terhadap tindakan-tindakan pemerintah, namun kurang menaruh perhatian pada hubungan antara lembaga tersebut dengan kebijakan-kebijakan publik. Baru setelah itu perhatian para ilmuwan politik mulai beranjak pada masalah-masalah proses-proses dan tingkah laku yang berkaitan dengan pemerintahan dan aktor-aktor politik. Sejak adanya perubahan orientasi ini, maka ilmu politik mulai dianggap memberi perhatian pada masalah-masalah pembuatan keputusan secara kolektif atau perumusan kebijakan.
Kebijakan publik semakin relevan untuk dikaji karena persoalan-persoalan aktual yang muncul dari berbagai kebijakan atau program pemerintah. Pertanyaan atau persolan-persoalan aktual tersebut misalnya: Apakah Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dapat membantu kesejahteraan masyarakat miskin, dari adanya dampak kenaikan harga BBM? Apakah sebenarnya isi atau muatan kebijakan penanaman modal asing? Siapakah yang diuntungkan dan siapakah yang dirugikan dengan program kenaikan tarif dasar listrik, kenaikan harga pupuk, dsb.?
Persoalan-persoalan tersebut di atas merupakan persoalan atau pertanyaan penelitian kebijakan dan sekaligus menunjukkan kenapa kebijakan publik perlu dipelajari. Ada tiga alasan mengapa kebijakan publik penting/urgen dan perlu dipelajari. Wahab dengan mengikuti pendapat dari Anderson (1978) dan Dye (1978) menjelaskan ketiga alasan itu, alasan ilmiah (scientific reason), alasan profesional (professional reason), dan alasan politis (political reason).
Dunn ( 2003 : 109-110) mengemukakan bahwa kebijakan publik (publik policy) adalah rangkaian pilihan yang kurang lebih saling berhubungan (termasuk keputusan keputusan untuk sudah berbuat), yang dibuat oleh badan dan pejabat pemerintah, diformulasikan dalam bidang-bidang lsu (isue areas) yaitu serangkaian tindakan pemerintah yang aktual ataupun yang potensial mengandung konflik diatara tujuan-tujuan yang ada dalam masyarakat. Sementara Jenkins yang dikutip oleh Wahab (2008 : 4) mengatakan kebijakan publik adaiah :
Lebih lanjut Said yang dikutip oleh Rakhmat (2009 : 129) berpandangan bahwa, terdapat beberapa isi dan sebuah kebijakan yaitu :
1.    Adanya tujuan (goals) tertentu yang hendak dicapai
2.     Rencana (plans) yang merupakan alat atau cara tertentu untuk mencapai tujuan
3.    Program (programs); cara yang disahkan untuk mencapai tujuan
4.    Keputusan atau pilihan ( decition or choises) ; tindakan yang diambil untuk mencapai tujuan , mengembangkan rencana, melaksanakan dan mengevaluasi program.
5.    Dampak (Impack), yaitu efek atau dampak yang ditimbulkan dari suatu program dalam kehidupan masyarakat.
Michael Howlet dan M. Ramesh sebagaimana yang dikutip Subarsono menyatakan bahwa proses kebijakan publik terdiri dari lima tahapan sebagai berikut:
1.    Penyusunan agenda (agenda setting), yakni suatu proses agar suatu masalah bisa mendapat perhatian dari pemerintah.
2.    Formulasi kebijakan (policy formulation), yakni proses perumusan pilihan-pilihan kebijakan oleh pemerintah.
3.    Pembuatan kebijakan (decition making), yakni proses ketika pemerintah memilih untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan.
4.    Implementasi kebijakan (policy implementation), yaitu proses untuk melaksanakan kebijakan supaya mencapai hasil.
5.    Evaluasi kebijakan (policy evaluation), yakni proses untuk memonitor dan menilai hasil atau kinerja kebijakan.

2.1.2.  Evaluasi Kebijakan Publik

2.1.2.1. Pengertian Evaluasi Kebijakan
Menurut Subarsono (2005), evaluasi adalah kegiatan untuk menilai tingkat kinerja suatu kebijakan. Sedangkan Jones (1997) menyatakan bahwa evaluasi suatu kebijakan publik berarti dilakukan peninjauan ulang untuk mendapatkan perbaikan dari dampak yang tidak diinginkan. pertanyaan mendasar yang muncul pada proses dilakukannya evaluasi kebijakan, yaitu: apakah akibat-akibat itu memang diinginkan, bagaimana hasilnya, respon yang muncul dari berbagai kelompok masyarakat, bagaimana lokasi dan kondisi di lapangan, bagaimana dukungan perundang-undangannya, bagaimana sikap dai kelompok-kelompok yang ada. Jika dilihat dari proses tahapan kebijakan publik maka evaluasi adalah tahap akhir dalam tahapan kebijakan, namun pendapat beberapa ahli sering menyatakan bahwa evaluasi bukanlah proses akhir dalam tahapan kebijakan. Evaluasi dilakukan  karena tidak semua program kebiijakan publik meraih hasil yang diinginkan.
            Menurut James Lester dan Joseph Stewart (2000), evaluasi kebijakan ditujukan untuk melihat sebab-sebab kegagalan suatu kebijakan atau untuk mengetahui apakah kebijakan publik yang telah dijalankan meraih dampak yang diinginkan. lebih lanjutnyya, evaluasi mereka bedakan ke dalam dua tugas yang berbeda, yaitu:
1.    Menentukan konsekuensi-konsekuensi apa yang ditimbulkan oleh suatu kebijakan dengan cara menggambarkan dampaknya. tugas ini merujuk pada usaha untuk melihat apakah program kebijakan publik mencapai tujuan atau dampak yang diinginkan atau tidak. Bila tidak, faktor-faktor apa yang menjadi penyebabnya.
2.    Menilai keberhasilan atau kegagalan dari suatu kebijakan berdasarkan standart atau kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Tugas ini berkaitan erat dengan tugas pertama. Setelah kita mengetahui konsekuensi-konsekuensi kebijakan melalui penggambaran dampak kebijakan publik, maka kita dapat mengetahui apakah program kebijakna yang dijalankan sesuai atau tidak dengan dampak yang diinginkan.

Berdasarkan seluruh pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa evaluasi kebijakan adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan untuk  menilai dan mengukur tingkat keberhasilan suatu kebijakn atau program secara objektif melalui standar pengukuran yang telah ditetapkan.

2.1.2.2 Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Tujuan Evaluasi
Menurut William N. Dunn (1998), evaluasi memiliki beberapa tujuan yang dirinci sebagai berikut:
1.    Mengukur efek suatu program/kebijakan pada kehidupan masyarakat dengan membandingkan kondisi antara sebelum dan sesudah adanya program tersebut. Mengukur efek menunjuk pada perlunya metodologi penelitian. Sedang membandingkan efek dengan tujuan mengharuskan penggunaan kriteria untuk mengukur keberhasilan.
2.    Memperoleh informasi tentang  kinerja implementasi kebijakan dan menilai kesesuaian dan perubahan program dengan rencana.
3.    Memberikan umpan balik bagi manajemen dalam rangka perbaikan/ penyempurnaan implementasi.
4.    Memberikan rekomendasi pada pembuat kebijakan untuk pembuatan keputusan lebih lanjut mengenai program di masa datang.

Fungsi Evaluasi
Evaluasi kebijakan berfungsi untuk memenuhi akuntabilitas publik, karenanya  sebuah kajian evaluasi harus mampu memenuhi esensi akuntabilitas tersebut, yakni:
1.    Memberikan Eksplanasi yang logis atas realitas pelaksanaan sebuah program/kebijakan. Untuk itu dalam studi evaluasi perlu dilakukan penelitian/kajian tentang hubungan kausal atau sebab akibat.
2.    Mengukur Kepatuhan, yakni mampu melihat  kesesuaian antara pelaksanaan dengan standar dan prosedur yang telah ditetapkan.
3.    Melakukan Auditing untuk melihat apakah output kebijakan sampai pada sasaran yang dituju. Apakah ada kebocoran dan penyimpangan pada penggunaan anggaran, apakah ada penyimpangan tujuan program, dan pada  pelaksanaan program.
4.    Akunting untuk melihat dan mengukur akibat sosial ekonomi dari kebijakan. Misalnya seberapa jauh program yang dimaksud mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, adakah dampak yang ditimbulkan telah sesuai dengan yang diharapkan, adakah dampak yang tak diharapkan.
2.1.3        Model-Model Evaluasi Kebijakan
Menurut P.P No 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan, di dalam pelaksanaannya, kegiatan evaluasi dapat dilakukan pada berbagai tahapan yang berbeda, yaitu;
1)    Evaluasi pada Tahap Perencanaan (ex-ante), yaitu evaluasi dilakukan sebelum ditetapkannya rencana pembangunan dengan tujuan untuk memilih dan menentukan skala prioritas dari berbagai alternatif dan kemungkinan cara mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya;
2)    Evaluasi pada Tahap Pelaksanaan (on-going), yaitu evaluasi dilakukan pada saat pelaksanaan rencana pembangunan untuk menentukan tingkat kemajuan pelaksanaan rencana dibandingkan dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya, dan
3)    Evaluasi pada Tahap Pasca-Pelaksanaan (ex-post), yaitu evaluasi yang dilaksanakan setelah pelaksanaan rencana berakhir, yang diarahkan untuk melihat apakah pencapaian (keluaran/hasil/dampak) program mampu mengatasi masalah pembangunan yang ingin dipecahkan. Evaluasi ini digunakan untuk menilai efisiensi (keluaran dan hasil dibandingkan masukan), efektivitas (hasil dan dampak terhadap sasaran), ataupun manfaat (dampak terhadap kebutuhan) dari suatu program.

Suatu desain eksperimen yang dipilih oleh peneliti membutuhkan perluasan terutama pada prosedur dari setiap penelitian yang akan dilakukan. Emzir (2009) mengklasifikasikan desain eksperimen dalam dua kategori yakni
1.    Desain Variabel Tunggal, yang melibatkan satu variabel bebas (yang dimanipulasi) yang terdiri atas:
·       Pra-Experimental Designs (non-designs).
Dikatakan pre-experimental design, karena desain ini belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh. Hal ini disebabkan karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel terikat (dependen). Jadi hasil eksperimen yang merupakan variabel terikat (dependen) itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel bebas (independen). Hal ini bisa saja terjadi karena tidak adanya variabel kontrol dan sampel tidak dipilih secara acak (random). Bentuk pra-experimental designs antara lain:
a.    One-Shot Case Study (Studi Kasus Satu Tembakan)
Dimana dalam desain penelitian ini terdapat suatu kelompok diberi treatment (perlakuan) dan selanjutnya diobservasi hasilnya (treatment adalah sebagai variabel independen dan hasil adalah sebagai variabel dependen). Dalam eksperimen ini subjek disajikan dengan beberapa jenis perlakuan lalu diukur hasilnya.
b.    One Group Pretest-Posttest Design (Satu Kelompok Prates-Postes)
Kalau pada desain “a” tidak ada pretest, maka pada desain ini terdapat pretest sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.
c.    Intact-Group Comparison
Pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi dibagi dua yaitu; setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dan setengah untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan).
·       True Experimental Design.
Dikatakan true experimental (eksperimen yang sebenarnya/betul-betul) karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Dengan demikian validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan penelitian)  dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari true experimental adalah bahwa, sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random (acak) dari populasi tertentu. Jadi cirinya adalah adanya kelompok kontrol dan sampel yang dipilih secara random. Desain true experimental terbagi atas :
a.    Posttest-Only Control Design
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol.
b.      Pretest-Posttest Control Group Design
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara acak/random, kemudian diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
c.       The Solomon Four-Group Design
Dalam desain ini, dimana salah satu dari empat kelompok dipilih secara random. Dua kelompok diberi pratest dan dua kelompok tidak. Kemudian satu dari kelompok pratest dan satu dari kelompok nonpratest diberi perlakuan eksperimen, setelah itu keempat kelompok ini diberi posttest.
·        Quasi Experimental Design
Bentuk desain eksperimen ini merupakan pengembangan dari true experimental design, yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan experimen. Walaupun demikian, desain ini lebih baik dari pre-experimental design. Quasi Experimental Design digunakan karena pada kenyataannya sulit medapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian. Dalam suatu kegiatan administrasi atau manajemen misalnya, sering tidak mungkin menggunakan sebagian para karyawannya untuk eksperimen dan sebagian tidak. Sebagian menggunakan prosedur kerja baru yang lain tidak. Oleh karena itu, untuk mengatasi kesulitan dalam menentukan kelompok kontrol dalam penelitian, maka dikembangkan desain Quasi Experimental.
Desain eksperimen model ini diantarnya sebagai berikut:
a.     Time Series Design
Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat dipilih secara random. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai empat kali dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak konsisten. Setelah kestabilan keadaan kelompok dapay diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment/perlakuan. Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja, sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol.
b.      Nonequivalent Control Group Design
Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, hanya pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random.
Dalam desain ini, baik kelompok eksperimental maupun kelompok kontrol dibandingkan, kendati kelompok tersebut dipilih dan ditempatkan tanpa melalui random. Dua kelompok yang ada diberi pretes, kemudian diberikan perlakuan, dan terakhir diberikan postes.
c.         Conterbalanced Design
Desain ini semua kelompok menerima semua perlakuan, hanya dalam urutan perlakuan yang berbeda-beda, dan dilakukan secara random.
     
2. Desain Faktorial, yang melibatkan dua atau lebih variabel bebas (sekurang-kurangnya satu yang dimanipulasi)
Desain faktorial secara mendasar menghasilkan ketelitian desain true-eksperimental dan membolehkan penyelidikan terhadap dua atau lebih variabel, secara individual dan dalam interaksi satu sama lain.Tujuan dari desain ini adalah untuk menentukan apakah efek suatu variabel eksperimental dapat digeneralisasikan lewat semua level dari suatu variabel kontrol atau apakah efek suatu variabel eksperimen tersebut khusus untuk level khusus dari variabel kontrol, selain itu juga dapat digunakan untuk menunjukkan hubungan yang tidak dapat dilakukan oleh desain eksperimental variabel tunggal.
Sedangkan menurut Finsterbusch dan Motz (1980:140), beberapa metode evaluasi yang digunakan dalam melakukan evaluasi terhadap program yang telah diimplementasikan yaitu :
1.    Single program after only, merupakan jenis evaluasi yang melakukan pengukuran kondisi atau penilaian terhadap program setelah meneliti setiap variabel  yang dijadikan  kriteria program. Sehingga analis tidak mengetahui baik atau buruk respon  kelompok sasaran terhadap program.
2.    Single program befora-after,  merupakan penyempurnaan dari jenis pertama yaitu adanya data tentang sasaran program pada waktu sebelum dan setelah program berlangsung.
3.    Comparative after only, merupakan penyempurnaan evaluasi kedua tapi tidak untuk yang pertama dan analis hanya melihat sisi  keadaan  sasaran bukan sasarannya.
4.    Comparative before-after, merupakan kombinasi ketiga desain  sehingga informasi yang diperoleh  adalah efek program terhadap kelompok sasaran. 
Evaluator dapat meggunakan bukan kelompok sasaran di samping menggunakan kelompok sasaran. Kelompok sasaran adalah kelompok yang mendapat program atau dikenai kebijakan. Sedangkan bukan kelompok sasaran adalah kelompok yang tidak mendapatkan program tetapi memiliki karakteristik yang sama atau hampir sama dengan kelompok sasaran.
            Dalam evaluasi dampak program, harus dicermati bahwa dampak yang terjadi betul-betul sebagai akibat dari program yang sedang dievaluasi, bukan dampak dari program lain. Untuk itu perlu ada pertanyaan yang bersifat check and recheck.Adapun dapat dimuat dalam tabel mengenai metodologi untuk evaluasi suatu kebijakan sebagai berikut.
Jenis Evaluasi
Pengukuran Kondisi
Bukan Kelompok Sasaran
Informasi yang Diperoleh
Sebelum
Sesudah
Single program after only
Tidak
Ya
Tidak ada
Keadaan kelompok sasaran
Single program befora-after,
Ya
Ya
Tidak ada
Perubahan kelompok sasaran
Comparative after only
Tidak
Ya
Ada
Keadaan kelompok sasaran dan bukan kelompok sasaran
Comparative before-after
Ya
Ya
Ada
Efek program terhadap kelompok sasaran dan bukan kelompok sasaran
Sumber : Drs. AG. Subarsono, M.Si.,MA, 2005:130.
2.1.4         Pengertian Masyarakat Pesisir

Masyarakat pesisir didefinisikan sebagai kelompok orang yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Definisi ini pun bisa juga dikembangkan lebih jauh karena pada dasarnya banyak orang yang hidupnya bergantung pada sumberdaya laut dan potensi dipesisir laut. Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier faktor sarana produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan, masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa pariwisata, penjual jasa transportasi, serta kelompok masyarakat lainnya yang memanfaatkan sumberdaya non-hayati laut dan pesisir untuk menyokong kehidupannya (Nikijuluw Victor, 2001).
Namun untuk lebih operasional, definisi populasi masyarakat pesisir yang luas ini tidak seluruhnya diambil tetapi hanya difokuskan pada kelompok nelayan dan pembudidaya ikan serta pedagang dan pengolah ikan. Kelompok ini secara langsung mengusahakan dan memanfaatkan sumberdaya ikan melalui kegiatan penangkapan dan budidaya. Kelompok ini pula yang mendominasi pemukiman di wilayah pesisir di seluruh Indonesia, di pantai pulau-pulau besar dan kecil. Sebagian masyarakat nelayan pesisir ini adalah pengusaha skala kecil dan menengah. Namun lebih banyak dari mereka yang bersifat subsisten, menjalani usaha dan kegiatan ekonominya untuk menghidupi keluarga sendiri, dengan skala yang begitu kecil sehingga hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan jangka waktu sangat pendek (Nikijuluw Victor, 2001).
Dari sisi skala usaha perikanan, kelompok masyarakat pesisir miskin diantaranya terdiri dari rumah tangga perikanan yang menangkap ikan tanpa menggunakan perahu, menggunakan perahu tanpa motor dan perahu bermotor tempel. Dengan skala usaha ini, rumah tangga ini hanya mampu menangkap ikan di daerah dekat pantai. Dalam kasus tertentu, memang mereka dapat pergi jauh dari pantai dengan cara bekerjasama sebagai mitra perusahaan besar. Namun usaha dengan hubungan kemitraan seperti tidak begitu banyak dan berarti dibandingkan dengan jumlah rumah tangga yang begitu banyak (Nikijuluw Victor, 2001).
Dalam upaya mewujudkan daerah yang maju dan mandiri serta masyarakat adil dan makmur, dalam rangka menjawab tantangan dan pemanfaatan peluang tersebut, diperlukan peningkatan efisiensi ekonomi, pengembangan teknologi, produktivitas tenaga kerja dalam peningkatan kontribusi yang signifikan dari setiap sektor pembangunan (Kusumastanto Tridoyo, 2001).
Bidang kelautan yang didefinisikan sebagai sektor perikanan, pertambangan laut, industri maritim, perhubungan laut, bangunan kelautan, jasa kelautan, sektor pariwisata khususnya merupakan andalan dalam menjawab tantangan dan peluang tersebut. Pernyataan tersebut didasari bahwa potensi sumberdaya kejautan yang besar yakni 75% wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah laut dan selama ini telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi keberhasilan pembangunan nasional. Sumbangan yang sangat berarti dari sumberdaya laut dan pesisir tersebut, antara lain berupa penyediaan bahan kebutuhan dasar, peningkatan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, perolehan devisa dan pembangunan daerah.

2.1.5        Pengertian Objek Wisata
Objek mempresentasikan sebuah entitas, baik secara fisik, konsep. Definisi formal dari objek adalah sebuah konsep, abstraksi atau sesuatu yang diberi batasan jelas dan dimaksudkan untuk sebuah aplikasi. Sebuah objek adalah sesuatu yang mempunyai keadaan, prilaku, dan identitas. Keadaan dari objek adalah satu dari kondisi yang memungkinkan dimana objek dapat muncul, dan dapat secara normal berubah berdasarkan waktu.(www.wikipedia.com)
Menurut Homby As ( 2001 ) wisata adalah sebuah perjalan dimana seseorang dalam perjalanannya singgah sementara di beberapa tempat dan akhirnya kembali lagi ke tempat asal dimana dia melakukan perjalana.
Menurut H.Kodyat (1983; 4) wiasat adalah perjalanan dari suatu tempat lain bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi social, budaya, alam dan ilmu.
Menurut Fandeli (2001) wisata adalah perjalanan atau sebagai dari kegiatan tersebut dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata.
Wisata memiliki kharakteristik – kharakteristik antara lain :
1.         Bersifat sementara, bahwa dalam jangka waktu pendek pelaku wisata akan kembali ke tempat asalnya.
2.         Melibatkan komponen - komponen wisata, misalnya sarana transportasi, akomodasi, restoran, objek wisata, toko cinderamata dan lain-lain.
3.         Umumnya dilakukan dengan mengunjungi objek wisata dan atraksi wisata.
4.         Memiliki tujuan tertentu yang intinya untuk mendapatkan kesenangan

Jadi dapa disimpulkan wisata adalah perjalanan yang dilakukan seorang atau sekelompok orang lebih dari tiga hari dengan menggunakan kendaraan pribadi, umum, atau biro tertentu dengan tujuan untuk melihat-lihat berbagai tempat atau suatu kota baik di dalam negeri maupun diluar negeri.
Peraturan Pemerintah No. 24/1979 menjelaskan bahwa obyek wisata adalah : perwujudan dari ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah bangsa dan tempat keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi. SK. MENPARPOSTEL No.: KM. 98 / PW.102 / MPPT-87 menjelaskan bahwa obyek wisata adalah : tempat atau keadaan alam yang memiliki sumber daya wisata yang dibangun dan dikembangkan sehingga mempunyai daya tarik dan diusahakan sebagai tempat yang dikunjungi wisatawan.
Secara pintas produk wisatadengan obyek wisata serta atraksi wisata seolah-olah memiliki pengertian yang sama, namunsebenarnya memiliki perbedaan secara prinsipil. (Yoeti, 1996 : 172) menjelaskan bahwa diluar negeri terminolgi obyek wisata tidak dikenal, disana hanya mengenal atraksi wisata yangmereka sebut dengan nama Tourist Attraction sedangkan di Negara Indonesiakeduanyadikenal dan keduanya memiliki pengertian masing-masing.
Menurut S. Nyoman Pendit ( 2002 ) obyek wisata atau tempat wisata adalah sebuah tempat rekreasi atau tempat berwisata. Obyek wisata dapat berupa obyek wisata alam seperti gunung, danau, sungai, panatai, laut, atau berupa obyek wisata bangunan seperti museum, benteng, situs peninggalan sejarah, dan lain-lain.
Menurut undang – undang Republik Indonesia Nomor 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan , ada dua jenis objek dan daya tarik wisata , yaitu (1) objek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berwujud keadaan alam, flora dan fauna; dan (2) objek dan daya tarik wisata hasil karya manusia yang berwujud museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni budaya, wisata agro, wisata tirta, wisata buru, wisata petualangan alam, taman rekreasi dan tempat hiburan.
Menurut Spilanne (2002), Daya tarik pariwisata adalah hal – hal yang menarik perhatian wisatawan yang dimiliki oleh suatu daerah tujuan wisata.
Menurut Karyono (1997) suatu daerah tujuan wisata mempunyai daya tarik di samping harus ada objek dan atraksi wisata, juga harus memiliki tiga syarat daya tarik, yaitu: (1) ada sesuatu yang yang bisa dilihat (something to see); (2) ada sesuatu yang dapat dikerjakan (something to do); (3) ada sesuatu yang bisa dikerjakan (something to do); (3) ada sesuatu sesuatu yang bisa dibeli (something to buy)
Menurut Spillane (2002) ada lima unsur penting dalam suatu objek wisata yaitu: (1) attraction atau hal – hal yang menarik perhatian wisatawan;(2) facilities atau fasilitas - fasilitas yang diperlukan; (3) infrastructure atau infrastruktur dari objek wisata, (4) transportation atau jasa – jasa pengangkutan; (5) Hospitality atau keramahtamahan, kesediaan untuk menerima tamu.

2.1.6. Pengertian Pantai dan Pesisir
Pantai dan pesisir merupkan dua istilah yan berbeda akan tetapi keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan karena sama-sama berhubungan dengan laut.
Pesisir
Pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut; ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Soegiarto, 1976; Dahuri et al, 2001).
Menurut  Dahuri  (1996), hingga  saat ini masih belum  ada  definisi wilayah pesisir yang baku. Namun demikian, terdapat kesepakatan umum di dunia bahwa wilayah pesisir  adalah  suatu wilayah peralihan  antara  daratan dan  lautan.
Apabila  ditinjau dari  garis  pantai  (coast line), maka wilayah pesisir mempunyai dua macam  batas  (boundaries)  yaitu batas  yang  sejajar  garis  pantai  (long  shore) dan batas yang tegak lurus garis pantai (cross shore). Berbagai nilai-nilai budaya masyarakat banyak yang menempatkan kawasan pesisir sebagai kawasan dengan fungsi-fungsi sosial tertentu (Rustiadi,  2001).
Pada waktu pasang naik, pesisir tertutup oleh air laut dan pada waktu pasang surut nampak berupa daratan. Oleh karena itu, pesisir sama panjangnya dengan pantai. Lebar peisir tidak sama untuk semua panai, terantung pada jenis pantainya. Pada pantai-pantai yang sangat landai lebar pesisir dapat mencapai beberapa puluh meter. Pada waktu surut, pesisir nampak terbentang memanjang seanjang pantai dan merupakan bentangan pasir yang indah sehingga dapat dijadikan salah satu objek wisata pantai. Pada pantai-pantai yang curam, lebar pesisir sangat  sempit sehingga tidak dapat mengalir lebih jauh dari daratan. Wilayah pesisir merupakan pertemuan daerah pertemuan antara darat dan laut; kearah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentaasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP. 10/MEN/2002 Tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengeloaan Pesisir Terpadu. Wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi, dimana kearah laut 12 mil dari garis pantai untuk propinsi dan seperti dari wilayah laut itu (kewenangan propinsi)  untuk kabupaten/kota dan ke arah darat batas administrasi kabupaten/kota. Potensi-potensi Sumber Daya alam (SDA) di daerah pesisir yang dapad dimanfaatkan antara lain:
·       Estuaria (daerah pantai pertemuan antara air laut dan air tawar); berpotensi sebagai daerah penengkapan ikan
·       Hutan magrove ( ekosistem yang tingkat kesuburannya lebih tinggi dari Estuaria) ; untung mendukung hidup biota laut.
·       Padang lamun (tumbuhan berbunga yang beradaptasi pada kehidupan di lingkungan bahari); ikan baronang, kakatua dan teripang.
·       Terumbu karang (ekosistem yang tersusun dari beberapa jenis karang batu tempat hidupnya beraneka ragam biota perairan).
·       Pantai berpasir ( tempat kehidupan moluska); memiliki nilai pariwisata terutama pasir putih. Pesisir merupakan daerah yang rawan terhadap proses abrasi serta kerusakan yang ditimbulkan oleh aktifitas manusia. Oleh sebab itu, daerah-daerah pantai harus dilestarikann fungsinya.
Pengelolaan wilayah pesisir menyangkut pengelolaan yang terus menerus mengenai penggunaan wilayah pesisir dan sumberdaya didalamnya dari area yang telah ditentukan, dimana batas-batas secara politik biasanya dihasilkan melalui keputusan legislatif atau eksekutif (Jones and Westmacott, 1993 dalam Kay 1999).
Jones dan Westmacott, 1993 menyimpulkan bahwa tidak ditemukan jalan terbaik untuk mengorganisasi  pemerintah sehubungan dengan pengelolaan pesisir. Hal ini disebabkan dalam kenyataan didunia terdapat keanekaragaman sosial, budaya, politik dan faktor administratif yang menyebabkan tidak ada satu-satunya jalan terbaik. Dengan demikian para perancang administrasi, untuk menata program pengelolaan pesisir yang baru, harus menyesuaikan dengan struktur administratif untuk memperoleh manfaat dari faktor-faktor budaya, sosial dan politik didalam kewenangan secara hukum dimana mereka berinteraksi sesuai issue  yang akan  dipecahkan.
Sorensen  dan McCreary (1990) menggambarkan susunan institusional untuk  mengalokasi kelangkaan sumberdaya dan nilai kompetitif di wilayah pesisir adalah ; gabungan hukum/aturan, adat/kebiasaan, organisasi dan strategi pengelolaan.
Kay dan Alder, 1999 mengemukakan jalan terbaik untuk menggambarkan susunan  institusional untuk pengelolaan pesisir adalah membagi sistem pemerintah dalam komponen vertikal dan komponen horizontal. Tingkatan pemerintahan, yaitu tingkat pusat, propinsi dan kabupaten merupakan komponen vertikal. Instansi sektoral dengan tugas/fungsi tertentu merupakan komponen horisontal yang  ada di tiap-tiap komponen vertikal.
Alternatif lain  untuk menggambarkan penataan pemerintah dalam pengelolaan pesisir adalah fokus pada bagaimana berbagai aktivitas pengelolaan pesisir dikontrol (Born dan Miller, 1998).
Pantai
Definisi atau pengertian pantai, pantai adalah sebuah wilayah yang menjadi batas antara lautandan daratan, bentuk pantai berbeda-beda sesuai dengan keadaan, proses yang terjadi di wilayah tersebut, seperti pengangkutan, pengendapan dan pengikisan yang disebabkan oleh gelombang, arus, angin dan keadaan lingkungan disekitarnya yang berlangsung secara terus menerus, sehingga membentuk sebuah pantai. Pantai sebuah bentuk geografis yang terdiri dari pasir dan terdapat di daerah pesisir laut atau bagian daratan yang terdekat dengan laut. Perbatasan daretan dengan laut seolah-seolah membentuk suatu garis yang disebut garis pantai. Panjang garis pantai ini diukur mengelilingi seluruh pantai yang merupakan daerah teritorial suatu negara. Indonesia merupakan negara berpantai terpanjang kedua setelah Kanada. Panjang garis pantai Indonesian terjatat sebesar 81.000 km.

Manfaat pantai sangat banyak, pantai-pantai pasti memiliki manfaat untuk kehidupan, terutama daerah tropis pantai yang dapat dimanfaatkan manusia untuk banyak hal, diantaranya :
a.     Objek pariwisata
b.    Daerah pertanian pasang surut
c.     Areal tambak garam
d.    Wilayah perkebunan kelapa dan pisang
e.     Daerah pengembangan industri kerajinan rakyat bercorak khas daerah pantai, dan lain-lain.
Pantai juga memiliki ekosistem, ekosistem pantai adalah ekosistem yang ada di wilayah perbatasan antara air laut dan daratan, dalam ekosistem pantai terdapat komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik pantai terdiri dari tumbuhan dan hewan yang hidup di daerah pantai, sedangkan komponen abiotik pantai terdiri dari gelombang, arus, angin, pasir, batuan dan sebagainya.
Keadaan dan bentuk pantai berbeda pada setiap tempat. Beberapa jenis pantai yang sering dijumpai antara lain:
1.    Pantai landai
Yaitu pantai yang bentuknya hampir rata dengan permukaan laut. Laut di pantai landai biasanya sangat dangkal. Pantai landai dijumpai di pantai sebelah timur Pulau Sumatera, pantai sebelah utara Pulau Jawa, dan Pantai Selatan Kalimantan.
2.      Pantai curam
Pantai curam atau pantai terjal yaitu pantai yang bentuknya curam menghadap laut oleh karena pegungungan yang membentang sepanjang pantai sehingga lereng yang curam langsung berbatasan dengan laut. Pada pantai ini sering terdapat gua-gua pantai akibat pukulan ombak yang berlangsung setiap saat. Pantai curam banyak ditemukan di pantai barat Sumatera, Pantai selatan Jawa dan pantai-pantai lainnya yang lautnya berbatasan dengan daerah pegunungan.
3.      Pantai karang
Pantai karang yaitu di sepanjang pantainya ditemukan banyak pulau-pulau karang, misalnya di pantai timur laut Benua Australia.
4.      Pantai mangrove
Pantai mangrove (pantai bakau) yaitu pantai yang ditutupi oleh hutan bakau, banyak terdapat di daerah tropis an banyak lumpur, serta sering tergenang air terutama ketika pasang naik. Pantai mangrove banyak terdapat di pantai timur Sumatera dan pantai-pantai rendah lainnya di seluruh Nusantara.


2.1.7.      Pengertian Perekonomian
Perekonomian kata dasarnya adalah ekonomi berasar dari bahasa latin oikonomia yang berarti pengaturan rumah tangga. Rumah tangga disini mungkin kecil seperti sebuah keluarga, mungkin juga besar seperti negara. Pengaturan demikian adalah pengaturan yang bertujuan untuk mencapai kemakmuran.
Pada dasarnya perekonomian adalah suatu bidang dimana manusia melakukan berbagai kegiatan dalam rangka mencukupi kebutuhannya disamping alat pemuas kebutuhan yang sifatnya terbatas. Hal tersebut dalam ilmu ekonomi menyangkut berbagai bidang. Bidang ekonomi tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor yang saling berkaitan. Perekonomian selain berkaitan dengan wilayah geografi suatu negara, juga sumber kekayaan alam, sumber daya manusia, cita-cita masyarakat/ideologi masyarakat, akumulasi kekuatan, kekuasaan, serta kebijaksanaan dalam kegiatan produksi dan distribusi, nilai sosial budaya serta pertahanan dan keamanan yang memberikan jaminan lancarnya roda kegiatan ekonomi suatu bangsa maupun daerah.
Proses ekonomi akan mempunyai dampak positif dalam arti meningkatkan kesejahteraan suatu bangsa manakala kegiatan ekonomi itu terselenggara dalam posisi keseimbanga. (Premono, 1995). Kemapanan perekonomian (kesejahteraan secara fisik) dapat terlihat dari pola hidup sehari-hari dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya/ tuntunan hidup. Bila semua kebutuhan hidup terutama kebutuhan pokok, maka sudah dapat dikatakan sebagai sejahtera. Namum karena kebutuhn manusia semakin meluas dan keinginan juga semakin meluas. Perekonomian disebut sejahtera jika kebutuhan pokok dan kebutuhan tambahan dapat terpenuhi secara mudah. Pemenuhan kebutuhan sangatlah tergantung pada pendapatan,  dengan tujuan untuk mencapai suatu kepuasan atau kemakmuran setelah menjalankan suatu mekanisme ekonomi
Secara keseluruhan perekonomian merupkan tingkat kemampuan seseorang atau sekelompok orang dalam upayanya memenuhi kebutuhan hidupnya baik pemenuhan kebutuhan pokok maupun kebutuhan lainnya.
2.1.8.      Definisi Konsep
Konsep merupakan istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak mengenai kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial ( Singarimbun, 1995:33). Adapun tujuan adanya konsep adalah untuk mendapatkan batasan yang jelas dari setiap konsep yang diteliti.
2.2.   Kerangka Berfikir
Banyaknya berbagai masalah dalam pengentasan kemiskinan di daereah maka pemerintah mencanangkan berbagai program untuk menyelesaikan masalah dalam pengentasan kemiskinan. Berdaasarkan masalah ekonomi yang menyebabkan tingginya pengangguran khususnya di daerah pesisir yang mana daerah ini memiliki potensi yang cukup tinggi untuk meningkatkan perekonomian dan meningkatkan Penghasilan Asli Daerah (PAD). Maka pemerintah mencanagkan berbagai program dimulai dari KEPMEN Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP. 10/MEN/2002 Tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolan Pesisir Terpadu, sampai kepada pelaksanaan di daerah yang dapat dilihat pada Perda Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Objek Wisata Pesisir Pantai Dan Sungai Di Kabupaten Serdang Bedagai.
   Dengan adanya program pemerintah dan program daerah dalam pelaksanaan pengelolaan pesisir pantai maka angka pengangguran dan pengentasan kemiskinan yang dimulai dari meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir pantai.






BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1     Tempat dan Tipe Penelitian
1.        Tempat Penelitian
Kawasan pesisir Pantai Cermin Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai
2.      Tipe Penelitian 
Metode penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan subjek atau objek penelitian seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang  tampak atau sebagaimana adanya. Penelitian deskriptif melakukan analisis dan menyajikan data-data dan fakta-fakta secara sistematis sehingga dapat dipahami dan disimpulkan.
Tujuan penelitian deskriptif analisis adalah untuk membuat gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Disamping itu penelitian ini juga menggunakan teori-teori, data-data dan konsep-konsep sebagai kerangka acuan untuk menjelaskan hasil penelitian, menganalisis dan sekaligus menjawab persoalan yang diteliti.  Oleh karena itu jenis penelitian ini adalah penelitian kuantatif.

3.2      Metode Penentuan Sampel
1.      Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil pengukuran yang menjadi objek penelitian (Riduwan, 2002:3).Sedang menurut Suharsimi Arikunto (2010:173) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.
Populasi yang digunakan adalah seluruh masyarakat Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai.
2.      Sampel
Sampel adalah bagian atau wakil populasi yang diteliti(Suharsimi, 2010:174).
Sampel yang diambil adalah masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan pesisir Pantai Cermin Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai. Cara pengambilan sampel dengan membagikan angket kepada masyarakat yang tinggal menetap di kawasan pesisir, dan melakukan wawancara terhadap masyarakat.


3.3            Instrument Penelitian
Dalam setiap penelitian, instrumen merupakan sesuatu yang mempunyai kedudukan sangat penting, karena instrumen akan menentukan kualitas data yang dikumpulkan. Semakin tinggi kualitas instrumen, semakin tinggi pula hasil evaluasinya (Arikunto dan Jabar, 2008:92). Dengan demikian kualitas suatu penelitian/evaluasi ditentukan oleh paling tidak empat kriteria berikut ini:
1)      Sahih (valid), yaitu mengukur apa yang semestinya diukur (measure what it should measure).
2)      Keterandalan (reliable), yaitu instrumen tersebut bisa digunakan kapanpun dengan hasil yang kurang lebih sama.
3)      Practicable, yaitu instrumen tersebut mudah digunakan, mudah dimengerti, praktis, dan tidak rumit.
4)      Ekonomis, yaitu instrumen tersebut tidak banyak membuang uang, waktu, dan tenaga dalam penyusunannya.
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa terdapat tiga jenis metode/teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian evaluasi ini, diantaranya adalah analisis dokumen, angket (kuesioner), dan wawancara. Untuk memberikan arah/pedoman terhadap hal-hal yang dievaluasi, peneliti terlebih dahulu menentukan komponen yang dievaluasi. Tabel di bawah ini memberikan gambaran yang lebih jelas dan rinci tentang kaitan antara aspek dan komponen yang dievaluasi, indikator yang dikembangkan berdasarkan komponen tersebut, sumber diperolehnya data, metode/teknik pengumpulan data, serta instrumen yang dipakai. Selanjutnya berdasarkan komponen/indikator yang dievaluasi itulah, instrumen-instrumen penelitian di atas dirancang dan digunakan.

3.4 Teknik Pengumpulan Data
Arikunto dan Jabar (2008:89) dengan tegas mengatakan bahwa evaluasi program adalah penelitian, maka metode pengumpulan data yang digunakan dalam evaluasi program sama dengan metode pengumpulan data dalam penelitian. Dengan demikian, untuk memperoleh data yang menunjang penelitian evaluasi ini peneliti menggunakan beberapa metode/teknik pengumpulan data seperti analisis dokumen, angket (kuesioner), dan wawancara. Peneliti menggunakan angket (kuesioner) untuk mengumpulkan data primer, sedangkan analisis dokumen dan wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data pendukung dan sekaligus melakukan triangulasi data.

3.5 Teknik Analisa Data
Penelitian umumnya bertujuan untuk memberikan rekomendasi kepada pihak penyelenggara program. Rekomendasi tersebut tentu saja berlandaskan pada data atau informasi yang diperoleh dari lapangan baik yang berasal dari tempat (place), orang (person), ataupun dokumen (paper). Informasi atau data tersebut selanjutnya diberikan perlakuan atau yang lebih dikenal dengan istilah pengolahan data. Arikunto dan Jabar (2008:128) mengatakan bahwa mengolah data adalah suatu proses mengubah wujud data yang diperoleh, biasanya masih termuat di dalam instrumen atau catatan-catatan yang dibuat peneliti (evaluator), menjadi sebuah sajian data yang dapat disimpulkan dan dimaknai.
Seperti dijelaskan dalam instrumen penelitian, data atau informasi yang diperoleh dalam penelitian evaluasi ini berasal dari tiga sumber yakni: 1) dokumen yang merupakan syarat administrasi dari suatu program, 2) angket (kuesioner) yang disebarkan kepada narasumber (masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan pesisir pantai cermin Kecamatan Pantai Cermin), dan 3) wawancara terhadap narasumber tersebut.
Selanjutnya, Arikunto dan Jabar (2008:130) menyebutkan data mentah yang diperoleh dari proses pengumpulan data sifatnya bervariasi:
1.      Data yang diperoleh dengan menggunakan dokumen berupa angka-angka atau simbol-simbol yang menunjuk peringkat kondisi objek yang ditelaah.
2.      Data yang diperoleh dengan menggunakan angket (kuesioner) maka data yang diperoleh berupa centangan atau tanda checklist () pada pilihan-pilihan, lingkaran-lingkaran pada angka atau huruf/kata yang disediakan dalam instrumen, atau kalimat-kalimat jawaban yang sifatnya kualitatif.
3.      Data yang diperoleh dengan wawancara, wujud data yang diperoleh berbentuk centangan, lingkaran, dan kalimat jawaban yang diberikan oleh responden (interviewee) dan dicatat oleh petugas pengumpul data atau peneliti/evaluator.
Data-data mentah di atas berikutnya disajikan/diolah untuk memudahkan pemaknaan/penafsiran terhadap data itu sendiri sehingga proses analisisnya menjadi lebih reliabel dan valid. Penyajian/pengolahan data mentah tersebut dilakukan melalui dua tahapan (Arikunto dan Jabar, 2008:129-130), yaitu:

1.      Tabulasi data
Tabulasi merupakan proses menyajikan data dalam bentuk tabel. Tabulasi merupakan coding sheet yang memudahkan peneliti dalam mengolah dan menganalisis data yang diperoleh, baik secara manual maupun menggunakan komputer. Tabulasi ini berisikan variabel-variabel objek yang akan diteliti dan angka-angka sebagai simbolisasi (label) dari kategori berdasarkan variabel-variabel yang diteliti. Dalam penelitian evaluasi ini, peneliti mentabulasi data yang diperoleh melalui kuesioner, dimana kuesioner yang disebarkan tersebut menekankan pada empat aspek (yakni: konteks, masukan, proses, dan hasil) yang dijadikan acuan dalam mengevaluasi program Pengelolaan Objek Wisata Pesisir Laut Dan Sungai Kabupaten Serdang Bedagai.
2.      Pengolahan/Analisis Data
Kegiatan menganalisis data merupakan kegiatan lanjutan setelah data terkumpul dan ditabulasi. Dari pengolahan data, bisa didapatkan keterangan/ informasi yang bermakna atas sekumpulan angka, simbol, atau tanda-tanda yang didapatkan dari lapangan. Informasi tersebut akan menggambarkan kondisi yang ingin diketahui tentang program pendidikan yang dievaluasi. Berdasarkan informasi itulah evaluator akan memberikan rekomendasi-rekomendasi kepada para pemegang kebijakan pendidikan yang terkait maupun stakeholder (Arikunto dan Jabar, 2008:143).












DAFTAR PUSTAKA
·         http://www.wikipedia.com/
·         http://www.serdangbedagaikab.go.id/indonesia/
·         Singarimbun, Masri. 1989. METODE PENELITIAN SURVAI. LP3ES :Jakarta
·         http://www.bisosial.com/2012/11/contoh-proposal-penelitian.html


















LAMPIRAN
·         SURAT KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 10/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PENGELOLAAN PESISIR TERPADU

·         PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR     9  TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN OBJEK WISATA PESISIR PANTAI DAN SUNGAI DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI