Minggu, 29 April 2012

Makalah Kewirausahaan


  MAKALAH KEWIRAUSAHAAN



BAB I
PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang
Pengembangan kewirausahaan yang dimasyarakat secara menyeluruh ke semua lapisan termasuk ke semua instansi baik pemerintah maupun swasta telah berlangsung hingga sekarang, tetapi kenyataannya menunjukkan perubahan yang berarti sejak krisis ekonomi melanda Indonesia yang berdamapak pada bertambahnya Pemutusan Hubungan Kerja di berbagai perusahaan di Indonesia.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka pengembangan kewirausahaan perlu ditanamkan ke generasi muda, karena dengan pengembangan jiwa kewirausahaan ini mereka diharapkan berperan sebagai :
  1. Pendukung lajunya pembangunan bangsa baik secara fisik maupun non fisik.
  2. Insan yang berpendidikan, diharapkan sebagai penggerak dan bertanggung jawab terhadap kemajuan suatu pengetahuan, teknologi dan seni khususnya pengetahuan di bidang kewirausahaan/ kemandirian.
  3. Suri tauladan sebagai praktisi di bidang kewirausahaan yang memiliki pendidikan tinggi, karena selama ini masyarakat kita yang menjadi praktisi di bidang kewirausahaan pada umumnya memiliki pendidikan rendah.
  4. Sebagai lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak sebagai insan pencari kerja, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan.


B.     Istilah Kewirausahaan, Kewiraswastaan, dan Enterpreneurship
1.      Pengertian Harafiah
Kewirausahaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan keberanian sesorang untuk melaksanakan sesuatu kegiatan bisnis atau non bisnis (cara bisnis).
2.      Menurut A. Pekerti (1999)
Kewirausahaan adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mendirikan, mengelola, mengembangkan dan melembagakan perusahaan yang dimilikinya sendiri. Kewirausahaan adalah tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan yang membuahkan hasil berupa organisasi yang melembaga, produktif dan inovatif. Kewirausahaan dengan kemampuan seseorang untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri dan orang lain dengan berswadaya.

3.      Menurut Hasil Simposium Nasional kewirausahaan 7-8 Februari 1995 di Jakarta
Kewirausahaan adalah kesatuan terpadu dari semangat, nilai-nilai dan prinsip-prinsip serta sikap, kiat, seni dan tindakan nyata yang sangat perlu, tepat dan unggul dalam menangani dan mengembangkan perusahaan atau kegiatan lain yang mengarah kepada pelayanan terbaik kepada langganan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan termasuk masyrakat, bangsa dan negara.

Pengertian ini kemudian diakomodasi dan dimantapkan dalam Inpres No.4 Tahun 1995 dengan kalimat sebagai berikut :

Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.

4.      Pengertian Enterpreneur dan Entrepreneurship
Menurut Edvardson, entrepreneurship adalah sebuah kata yang digunakan untuk menjelaskan perilaku-perilaku pemikiran strategis dan berani mengambil resiko yang akan diberikan hasil peluang bagi individu dan organisasi
Ciri-ciri entrepreneur menurut Edvardson adalah :
a.       Memiliki sikap / ketetapan hati (internal locus of control)
b.      Bersemangat tinggi (high energy level)
c.       Motivasi berprestasi tinggi (high need for achievement)
d.      Dapat memahami perbedaan pendapat (tolerance for ambiguity)
e.       Percaya diri (self confidence)
f.       Berorientasi tindakan (Action oriented)

C.    Ciri-ciri Wirausahawan yang Berhasil
1.      Menurut Steinhoff dan Burgess:
a.       Memiliki kemampuan mengidenfikasi suatu pencapaian sasaran (goal) dan memiliki kejelian (vision) dalam bisnis.
b.      Kemampuan untuk mengambil resiko keuangan dan waktu.
c.       Memiliki kemampuan di bidang perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaannya.
d.      Bekerja keras dan melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk mau dan mampu memcapai keberhasilan.
e.       Mampu menjalin hubungan baik dengan pelanggaran, karyawan, pemasok, bankers dan lain-lain.

2.      Menurut Pitke Abrahamso (1989) :
a.       Memiliki drive yang kuat (motivasi untuk maju).
b.      Memiliki kekuatan mental yang baik (IQ, EQ, analitis, kreatif)
c.       Memliki kemampuan menjalin hubungan antar manusia (human relation ability)
d.      Memiliki kemampuan berkomunikasi
e.       Menguasai pengetahuan teknis




3.      Menurut Mc Cleland :
a.       Menyukai pengambilan resiko yang moderat
b.      Bertanggung jawab.
c.       Mengutamakan uang sebagai alat ukur keberhasilan.
d.      Mampu mengantisipasi masa yang akan datang.
e.       Memiliki organizational skill yang baik.

4.      Menurut Suparman Sumahamidjaja (1993) :
a.       Sikap mental positif (disebut ada 36 macam).
b.      Daya pikir kreatif.
c.       Inovatif.
d.      Motivasi tinggi.
e.       Kemampuan mengambil resiko dan bersaing.

D.    Teori Kewirausahaan
A. Pekerti membedakan teori kewirausahaan dalam dua golongan besar, yaitu teori yang mengutamakan peluang usaha (yang umumnya dianut para ahli ekonomi) dan teori yang mengutamakan tanggapan orang terhadap peluang tersebut (yang umumnya dianut oleh para ahli sosiologi dan psikologi).

1.      Teori Ekonomi
Menurut Catilon, wirausahawan adalah orang yang mengambil resiko dengan jalan membeli barang sekarang dan menjualnya kemudian dengan harga yang tidak pasti. Jadi wirausahaan adalah penanggung resiko.

Bila kewirausahaan kita pahami menurut teori yang mengutamakan peluang usaha, maka mengembangkan wirausaha bisa berwujud tindakan-tindakan sebagai berikut :
a.       Secara sengaja menciptakan peluang ekonomi.
b.      Menyebarkan informasi tentang peluang ekonomi.
c.       Menawarkan insentif agar orang mau menanggung resiko, menjadi innovator dan membangun organisasi.
2.      Teori Sosiologi
Teori-teori sosiologi mengingatkan pada kita bahwa waris-waris sosial merupakan salah satu penentu utama kewirausahaan. Karena itu kalau kita secara sengaja mengembangkan wirausaha dalam suatu masyarakat yang tertentu niscaya kita harus menghiraukan ketimpangan-ketimpangan sosial yang mempengaruhinya.

Teori-teori sosiologi menerangkan perbedaan antar kelompok sosial tetapi tidak menjelaskan mengapa dalam suatu kelompok sosial ada orang yang menerangkan perbedaan antar orang.

3.      Teori Psikologi
Pada dasarnya teori psikologi tentang kewirausahaan mencoba menjawab dua pertanyaan :
a.       Adakah karakteristik perorangan yang membedakan wirausaha dan orang yang bukan wirausaha ?
b.      Adakah karaktiristik perorangan yang membedakan wirausaha yang berhasil dan yang kurang berhasil.

McClelland (perintis teori psikologi) mencoba mencari (secara empiris) faktor-faktor kepribadian yang tidak tergantung pada keadaan lingkungan, yang menentukan sukses tidaknya seorang wirausaha.

Ketiga macam teori yang dibahas diatas menambah kemampuan kita untuk mengembangkan wirausaha dan mengembangkan diri sebagai wirausaha.

4.      Teori Perilaku
Menurut Wesper, keberhasilan seseorang wirausaha tergantung dari :
a.       Pilihan tempat kerjanya sebelum mulai sebagai wirausaha.
b.      Pilihan bidang usahanya, kerjasama dengan orang lain.
c.       Dan kepiawaian mengamalkan manajemen yang tepat.

Menurut Drucker, ada tiga unsur perilaku untuk mendukung berhasilnya praktek kewirausahaan :
a.       Inovasi (bertujuan)
Dasar pengetahuan kewirausahaan adalah inovasi, artinya cara baru memanfaatkan sumber daya untuk menciptakan kekayaan.

b.      Manajemen wirausaha
Orang yang mendirikan perusahaan harus tahu manajemen dan mengamalkan. Manajemen kewirausahaan harus mengutamakan empat hal :
1)      Fokus pada dasar
2)      Antisipasi kebutuhan keuangan
3)      Menyampaikan dan menyusun tim manajemen puncak jauh sebelum diperlukan.
4)      Dan penetuan peran si pendiri dalam hubungannya dengan orang lain.

c.       Dan strategi wirausaha.
Wirausahawan juga harus mampu mengatur startegi menempatkan diri dalam pasar. Drucker menyarankan empat macam strategi wirausaha :
1)      Pemimpin yang dominan dalam pasar
2)      Imitasi kreatif
3)      Monopoli dengan produk atau jasa yang sangat khusus
4)      Dan menciptakan konsumen baru dengan menciptakan produk barang atau jasa.

Teori perilaku berbeda dari teori-teori yang dibicarakan sebelumnya karena mengutamakan kemampuan yang bisa dipelajari dan dikuasai sendiri oleh orang yang mau menjadi wirausaha.


Berpangkal pada teori perilaku, kita bisa berupaya mengembangkan wirausaha dengan keyakinan bahwa kewirausahaan bisa dipelajari dan dikuasai. Teori perilaku dibatasi oleh warisan sosial dan keturunan. Kewirausahaan adalah pilihan kerja, pilihan karier. Jadi untuk mengembangkan wirausaha kita bisa menciptakan peluang ekonomi dan peluang belajar kewirausahaan secara sengaja dan terencana.



BAB II
SIKAP MENTAL WIRAUSAHA


A.    Wirausahawa dan Perekonomian Indonesia
Pemerintah berkewajiban memberikan pengarahan dan bimbingan terhadap pertumbuhan ekonomi serta menciptakan iklim yang sehat bagi perkembangan dunia usaha. Sebaliknya dunia usaha harus memberikan tanggapan terhadap pengarahan dan bimbingan serta penciptaan iklim memegang peranan aktif. Sebagaimana diketahui terdapat tiga unsur penting dalam tata perekonomian Indonesia yaitu : Sektor negara, sektor swasta dan koperasi. Ketiga sektor ekonomi ini perlu dikembangkan secara serasi dan mantap.

Dengan demikian sektor swasta merupakan unsur penting dalam perekonomian Indonesia, karena itu kewirausahaan/ kewiraswastaan mempunyai peran dalam pembangunan nasional dibidang perekonomian.

B.     Kondisi Wirausaha/Wiraswasta
Gambaran kondisi usaha kecil dalam garis besarnya dapat diutarakan sebagai berikut :
1.      Tingkat pendidikan umumnya rendah (bersikap tradisional).
2.      Kelemahan tersebut pertama membawa dampak pada sikap menejemen dan organisasi usaha.
3.      Biasanya mati hidupnya usaha tergantung diri seseorang.
4.      Kelemahan financial. Ini membawa akibat keterbatasan kemampuan gerak. Pemupukan modal sulit karena terganggu pola konsumennya.
5.      Teknis. Karena kurangnya landasan pengetahuan ditambah lemahnya permodalan, maka kemampuan teknis untuk memproduksi barang sulit ditingkatkan baik kwalitas maupun kualitasnya.
6.      Lokasi usaha. Terbesar diseluruh wilayah kota, kota kabupaten, kecamatan, desa. Maka fasilitas yang membantu kemudahan usaha tidak sama diperolehnya. Ini merupakan juga hambatan-hambatan yang menentukan.
7.      Dokumen usaha. Karena sikap usaha yang tradisional, pada umumnya kurang memperhatikan dokumen-dokumen yang dapat memberikan keamanan/ bantuan terhadap kemungkinan pengembangan usaha.

Prof. koentjoroningrat dalam Kebudayaan, Metaliteit dan pembangunan menyatakan kelemahan mental bangsa Indonesia yaitu :
1.      Sifat mentaliteit yang meremehkan waktu.
2.      Sifat mentaliteit yang suka menerobos.
3.      Sifat tidak percaya pada diri sendiri.
4.      Sifat tidak berdisiplin murni.
5.      Sifat mentaliteit yang suka mengorbankan tanggung jawab yang kokoh.

Menurut pernyataan Suparman Sumahamija bahwa pembinaan dan pengembangan kewirausahaan ada tiga pokok yang tidak dapat dipisahkan yaitu
1.      Sikap mental wiraswasta (wirausaha).
2.      Kewaspadaan mental wiraswasta (wirausaha).
3.      Keahlian dan ketrampilan wiraswasta (wirausaha).

C.    Sikap Mental dan Kepribadian Wiraswasta adalah Modal Dasar Wirausaha
Sikap mental dan kepribadian merupakan unsur penting sebagai dasar dan titk tolak mencapai hasil dalam perjuangan hidup. Orang tidak dapat memperbaiki dan mempertinggi kepribadiannya. Dengan demikian orang akan terbatas dari rasa khawatir mengenai diri dan akan menghadapi kehidupan beserta masalahnya secara  realistis karena itu diusahakan :
1.      Mengembangkan persahabatan dengan siapapun.
2.      Pergaulan yang bermanfaat.
3.      Perlu selalu dibina kepribadian yang menarik dan menyenangkan.
Sifat yang menjadi landasan bagi suatu kepribadian unggul menawan perlu selalu diperbaiki, lenyapkan faktor-faktor yang negatif dan selalu dikembangkan faktor-faktor yang positif sebagai dasarnya.

D.    Menyikapi hambatan
Mewujudkan suatu usaha berwirausaha menyatakan banyak menghadapi hambatan mental kepribadian dan lain sebagainya.

Orang yang tekun pada umunya memahami dan memanfaatkan arti wasiat nenek moyang : teratur, teliti, tetap tidak bergerak dan tidak goyah, berani menghadapi resiko, tegas dan jelas, selalu mengenai sasaran yang dituju dilengkapi dengan keimanan dan ketakwaan. Demikian ini dapat terjadi karena :
1.      Tahu apa maunya (mampu merumuskan tujuan).
2.      Menyadari perlunya rencana sistematis dan kemampuan kerja sama.
3.      Sikap mental, dengan membiasakan diri bersikap mental positif, selalu bergairah melakukan kegiatan berkaryanya.
4.      Membiasakan membangun disiplin diri.
5.      Tahu mensyukuri, mensyukuri waktu, lingkungannya bersedia membawa orang lain untuk maju.
6.      Bersedia membayar kemajuan, yaitu ketersediaan berjerih payah.
7.      Bersedia belajar dari pengalaman dan kepahitan.
8.      Menguasai kemampuan menjual, memiliki kemampuan kepemimpinan dan entrepreneurship, menghayati dan menyamalkan pancasila.
9.      Membiasakan diri memberikan lebih daripada yang diterima.
10.  Memperhatikan kesehatan diri.
11.  Selalu berusaha mempunyai kepribadian yang menarik dan menyenangkan.




E.     Proses Pembentukan Modal
Untuk memiliki modal memang memerlukan persiapan-persiapan. Persiapan itu ialah tekad kemauan diri membentuk modal. Adapun prosesnya  pertama-tama adalah tekad dan kemauan untuk megembangkan diri melalui :
1.      Melalui pendidikan
2.      Belajar sendiri
3.      Berlatih diri berwiraswasta.
4.      Membentuk dan membiasakan mental watak maju, percaya diri sendiri.
5.      Melalui kebiasaan bersedia dan rajin berupaya.

Kita menyadari pada diri kita mempunyai berbagai bentuk suber kekuatan sebagai :
1.      Kekuatan pengetahuan
2.      Sikap mental
3.      Keakhilan
4.      Ketrampilan
5.      Pengalaman
6.      Kemampuan hubungan perkenalan

Modal
Sebagaimana Dr. Suparman Sumahamijaya mengupasnya, maka yang dimasukkan dalam kategori adalah sebagai berikut :
1.      Kemerdekaan
Karena kemerdekaan ini menyediakan kesempatan.

2.      Kesempatan
Kesempatan tidak boleh dibiarkan berlaku tetapi perlu digarap, karena hal itu akan menjadi :
a.       Sumber penghasilan.
b.      Dengan ditopang melalui membentuk modal.


3.      Diri sendiri
Di dalam diri sendiri ini terdapat instrument. Berpikir dengan sikap mental wiraswasta/wirausaha untuk berwiraswasta. Sebagaimana diketahui sikap mental wiraswasta / wirausaha itu :
a.       Penuh gagasan ide
b.      Penuh inisiatif dan prakarsa
c.       Penuh daya cipta kreatifitas
d.      Penuh self motivation
e.       Dapat berkerjasama
f.       Tahu apa maunya hidup ini
g.      Tahu menghitung resiko
h.      Mampu mencegah hambatan mental
i.        Selalu meningkatkan ketrampilan dan salesmanship.

4.      Waktu
Waktu adalah modal, gunakanlah sebaik-baiknya untuk membangun masa depannya dengan berkerja, belajar, menyelidiki sesuatu untuk kemudian diketahui, diterjuni dan diolah.

5.      Belajar
Belajar adalah modal; belajar banyak caranya. Dapat dinyatakan :
a.       Belajar sendiri.
b.      Merantau, dengan merantau akan mengenal keprihatinan.
c.       Mencari pengalaman demi membangun masa depan.
d.      Sekolah

Modal Bukanlah Uang
Sikap berfikir itulah modal, modal yang dapat menggali uang. Uang adalah alat pembantu perluasan kesempatan usaha, jadi bukan modal mendirikan usaha.


F.     Kewaspadaan Mental Wiraswasta/ Wirausaha
Untuk menangkap peluang dan kesempatan baik diperlukan kewaspadaan mental. Kesempatan baik ini diperoleh dengan kerja keras dan tidak dapat ditangkap dengan mata tetapi ditangkap dengan kewaspadaan mental.

Agar kewaspadaan mental menjadi tajam dan tinggi, perlu dilatih dan dikembangkan kemampuan-kemampuan mental itu. Kemampuan mental ialah kemampuan memakai pikiran dan perasaan wujudnya adalah :
1.      Penyerapan
Kemampuan berpikir dan merasakan sesuatu secara mendalam, melihat pikiran secara batin dengan penuh perhatian.
2.      Penyimpanan
Kemampuan menyimpan dan menanam pikiran dan perasaan di dalam ingatan. Ini sewaktu-waktu dapat dikeluarkan kembali.
3.      Pemakaian pikiran
Kemampuan mengupas, membahas dan menilai sesuatu persoalan.
4.      Daya cipta
Kemampuan melihat di dalam pikiran supaya bisa tahu sebelum, dan selanjutnya kemampuan melahirkan atau mewujudkan ide baru atau gagasan-gagasan kreatifitas.

G.    Berkerjasama dengan Orang Lain
Di dalam mengadakan usaha atau perusahaan pada umumnya usaha sendiri tidak dapat mencapai ukuran besar. Untuk pertengahan dan ukuran besar hanya dicapai dengan kerjasama.

Jika berkerjasama hubungan itu perlu diatur dengan baik-baik tentang hak dan kewajiban dan tanggung jawab masing-masing.


Agar kerjasama menjadi kokoh kuat, memerlukan beberapa hal, antara lain :

1.      Toleransi
2.      Disiplin
3.      Solidaritas
4.      Kerukunan
5.      Tekad bersama untuk membangun dan mengembangkan usaha
6.      Dsb.

Selama kepentingan bersama sebagai dasar adanya kerjasama masih hidup, maka akan dapat berhasil menciptakan pekerjaan-pekerjaan besar. Unsur dapat menunjukkan dan dapat “merebut” pengakuan pihak lain, bahwa diri ini benar-benar dapat bekerja baik, akan sangat berpengaruh pada baiknya kerjasama dan demi kemajuan. Maka pengakuan pada masing-masing pihak harus saling diusahakan.



* * * * *