Kamis, 31 Mei 2012

Faktor Penghambat Komunikasi

Faktor Penghambat Komunikasi

Seperti air yang mengalir mengikuti aliran sungai. Bila ada batu, air akan berbelok. Bila tersumbat, air akan terus mendorong dengan perlahan hingga menembus rintangan yang ada. Komunikasi hendaknya juga mengikuti sifat air agar lancar. Tapi tidak semua komunikasi bisa bagus dan sesuai dengan yang diinginkan. Ada faktor penghambat komunikasi.

Budaya

Bagi yang sering merantau dan sudah sering kali hidup di daerah yang berbeda-beda, faktor budaya yang berbeda dapat menjadi masalah tersendiri dalam usaha beradaptasi dengan lingkungan. ‘The cultural shock’, keterkejutan budaya sering terjadi kepada pendatang di suatu kelompok baru.

Bila tak mampu mengatur irama komunikasi dengan lingkungan baru, maka stres dan depresi selama berhari-hari dapat terjadi. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang budaya di lingkungan baru tersebut. Selain banyak berkomunikasi dengan penduduk lokal juga bacalah koran atau majalah terbitan lokal. Dari koran harian lokal biasanya akan diketahui bagaimana budaya masyarakatnya.

Latar Belakang Pendidikan

Faktor penghambat komunikasi yang lainnya adalah latar belakang pendidikan. Pengetahuan yang berbeda bisa menciptakan ‘information gap’ yang terlalu jauh. Yang mempunyai pengetahuan lebih bisa menjadi guru atau penyampai ilmu baru.
Tapi bila selalu memberi maka suatu saat akan terjadi kejenuhan dan yang memberi informasi merasa hanya seperti sumur yang selalu memberi air. Apalagi bila si pemberi ilmu merasa tidak mendapatkan ilmu baru. Kesombongan bisa saja datang menghampiri yang memberi ilmu.

Usia

Beda generasi, beda zaman dan beda pengalaman. Faktor penghambat komunikasi yang satu ini sering kali terjadi dalam keluarga. Tidak adanya saling pengertian akan membuat setiap anggota keluarga memilih diam atau sibuk dengan urusannya masing-masing. Beda pengalaman hidup akan membuat yang lebih tua merasa lebih berpengalaman dan yang muda merasa yang tua tidak paham dan ketinggalan zaman.

Jenis Kelamin

Laki-laki dan perempuan mempunyai benteng pertahanan yang berbeda dalam berkomunikasi. Laki-laki merasa sangat sulit memahami perempuan dan perempuan merasa sangat sulit memahami laki-laki. Tidak jarang debat kusir terjadi di antara suami dan istri hanya karena istri tidak membangunkan suaminya.
Cara pikir yang menggunakan sudut pandang yang berbeda membuat emosi keduanya mudah sekali tersulut. Bila emosi sudah tersulut, maka masalah akan berkembang ke segala lini kehidupan yang tidak ada ujung pangkalnya.

Agama

Agama bisa menjadi faktor penghambat komunikasi yang sangat genting. Beda pandangan mengenai cara menyembah Tuhan ini dapat berbuah permusuhan antar generasi selama berabad-abad. Bahkan satu negara dengan negara lainnya dapat terjadi perang hanya karena agam yang berbeda.
India dan Pakistan, contohnya. Iran dan Irak juga begitu. Islam Syiah dan Sunni belum juga rela untuk membiarkan masing-masing kelompok hidup dengan damai dan saling berdampingan.