Selasa, 05 Juni 2012

Makalah Etika Terapan




DAFTAR ISI
v KATA PENGANTAR
v PENDAHULU
Ø Latar  Belakang
Ø Rumusan Masalah
Ø Tujuan Penulisan
v PEMBAHASAN
Ø Pengertian Etika Terapan
Ø Peranan Etika Dalam Dunia Modren
Ø Pengertian Terapan Etika
§  Etika profesi
§  Etika Bisnis
v KESIMPULAN













KATA PENGANTAR
        Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayatNya, sehingga penyusunan makalah dengan judul  Etika Terapan  dapat berjalan dengan baik, dari awal sampai selesai. Penyusun menyadari akan kemampuan yang sangat terbatas sehingga dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangannya. Namun makalah yang disajikan sedikit banyak bermanfaat bagi penyusun khususnya dan mahasiswa lain pada umumnya.

BAB  I
PENDAHULU
A.  Latar Belakang

        Etika terapan merupakan kepedulian terhadap etika yang lebih mendalam dalam menjalankan kehidupan yang lebih baik. Kira-kira empat dasawarsa terakhir perhatian terhadap filsafat moral (etika) berubah drastis. Etika tampil dalam bentuk etika terapan atau kadang disebut filsafat terapan. Pada awal abad 20,  di kawasan berbahasa inggris, khususnya di United Kingdom dan Amerika Serikat etika dipraktekkan sebagai ”metaetika”. Ini adalah suatu aliran dalam filsafat moral yang tidak menyelidiki baik buruknya perbuatan manusia, melainkan “bahasa moral” atau ungkapan-ungkapan manusia tentang baik dan buruk. Aliran metaetika merupakan filsafat moral yang mendominasi enam dekade pertama abad ke-20. Baru mulai akhir 1960-an terlihat suatu tendensi lain. Timbul perhatian yang semakin besar terhadap etika, sekitar saat itu etika mulai meminati masalah-masalah etis yang konkrit. Etika turun dari tempatnya yang tinggi, dan mulai membumi.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan tesebut.
1.     Perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi, khususnya dalam sector ilmu-ilmu biomedis. Perkembangan pesat bidang ini telah menimbulkan banyak persoalan etis yang besar.
2.     Terciptanya semacam “iklim moral” yang mengundang minat baru untuk etika. Iklim baru yang dimaksud berupa munculnya gerakan hak diberbagai bidang, yang secara khusus telah mengundang peran aktual dari etika itu sendiri.
          Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, diperlukan suatu sistem yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain. Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika yang lebih di dalam masyarakat kita.
B.  Rumusan Masalah
          Dari latar belakang dapat diambil suatu permasalahan yang dihadapi yakni seberapa basar pengaruh etika terapan dalam mempengaruhi kehidupan dewasa ini.
C.  Tujuan Penulisan
          Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui perbedaan-perbedaan perangai manusia yang baik maupun yang jahat dalam konteks kehidupan praktis bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, agar manusia dapat memegang teguh perangai-perangai yang baik dan menjauhkan diri dari perangai yang jahat, sehingga terciptalah tata tertib dalam pergaulan masyarakat, dan mengurangi konflik-konflik di dalam bermasyarakat.



BAB  II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Etika Terapan
          Etika terapan (applied ethics) sama sekali bukan hal yang baru dalam sejarah filsafat moral. Sejak Plato dan Aristoteles, etika merupakan filsafat praktis, artinya, filsafat yang ingin memberikan penyuluhan kepada tingkah laku manusia dengan memperlihatkan apa yang harus dilakukan. Sifat praktis ini bertahan selama seluruh sejarah filsafat. Dalam abad pertengahan, Thomas Aquinas melanjutkan tradisi filsafat praktis ini dan menerapkannya di bidang teologi moral. Pada awal zaman modern muncul etika khusus (ethica specialis) yang membahas masalah etis suatu bidang tertentu seperti keluarga dan negara. Namun pada dasarnya etika khusus dalam arti sebenarnya sama dengan etika terapan.
          Sekarang sudah cukup banyak institut, di dalam maupun di luar kalangan perguruan tinggi, yang khusus mempelajari persoalan- persoalan moral dan kerapkali berkaitan dengan bidang ilmiah tertentu (kedokteran, psikologi, hukum, ekonomi,dan lain-lain) bahkan seringkali dimasukkan dalam kurikulum di perguruan tinggi.
Etika Terapan sendiri di bagi menjadi 2, yaitu:

   1. Etika Umum
Etika Umum berbicara mengenai norma dan nilai moral, kondisi-kondisi dasar bagi manusia untuk bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika, lembaga-lembaga normatif dan semacamnya.
1.1  Kaitan etika terapan dengan etika umum
                    Penampilan baru etika dalam bentuk etika terapan sekarang ini mempunyai konsekuensi juga untuk etika teoretis atau etika umum. Perdebatan tentang masalah-masalah kongkrit akhirnya akan memperjelas, menguji dan mempertajam juga prinsip-prinsip moral yang umum. Perjumpaan dengan praktek akan memberikan banyak masukan berharga yang dapat dimanfaatkan oleh refleksi etika teoritis. Sebaliknya, etika terapan sangat membutuhkan bantuan dari teori etika, sebagai pegangan baginya dalam memasuki pergumulan dengan masalah-masalah praktis. Disini ia mempergunakan prinsip-prinsip dan teori moral yang diharapkan sudah mempunyai  dasar yang kukuh. Apa yang dihasilkan oleh etika terapan tidaklah bias diandalkan kalau teori etika yang ada dibelakangnya tidak berbobot dan bermutu.  

2. Etika Khusus
            Etika Khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus.
          Pembagian lain etika terapan adalah pembedaan antara etika individual dan etika social. Etika individual membahas kewajiban manusia terhadap dirinya sendiri, sedangkan etika social membahas kewajiban manusia sebagai anggota masyarakat. Namun pembagian ini banyak diragukan relevansinya, karena manusia peroranganpun selalu adalah mahluk social, sehingga tidak bias dibedakan antara etika semata-mata individual dan etika yang semata-mata sosial.
          Masalah pada etika individual sering disebut bunuh diri, tetapi perbuatan bunuh diri tidak hanya melibatkan individu yang bersangkutan saja karena juga ada pengaruh atas keluarga, teman-teman, sekolah, lingkungan kerjanya, dsb. Dalam halini, tidak ada masalah apapun yang dapat lepas dari konteks sosialnya, sehingga pembagian ke dalam etika individual dan etika sosial kehilangan relevansinya. Nilai kegunaan praktis etika terapan adalah memberikan dasar-dasar berperilaku terpuji sesuai dengan norma-norma agama, norma-norma sosial, serta norma-norma profesi untuk diterapkan dalam berbagai bidang pergaulan, di mana nilai-nilai etis telah dirumuskan dan disepakati sebagai acuan melaksanakan suatu profesi tertentu. Nilai-nilai etis tersebut biasanya menjadi bagian tak terpisahkan dari etika profesi, etika sosial, etika politik, etika keguruan, dan sebagainya, yang kesemuanya itu memberikan landasan-landasan praktis bagaimana berakhlak atau beretika yang baik di tangah-tengah pergumulan masyarakat; apakah sebagai PNS, pejabat negara, pengacara, guru, dokter, politisi, dan sebagainya, dalam rangka mencapai tata kehidupan yang baik.   


B. Peranan Etika dalam Dunia Modern
1. Adanya pluralisme moral
          Adalah suatu kenyataan sekarang ini bahwa kita hidup dalam zaman yang semakin pluralistik, tidak terkecuali dalam hal moralitas. Setiap hari kita bertemu dengan orang-orang dari suku, daerah lapisan social dan agama yang berbeda. Pertemuan ini semakin diperbanyak dan diperluas oleh kemajuan yang telah dicapai dalam dunia tekhnologi infomasi, yang telah mengalami perkembangan sangat pesat. Dalam pertemuan langsung dan tidak langsung dengan berbagai lapisan dan kelompok masyarakat kita menyaksikan atau berhadapan dengan pelbagai pandangan dan sikap yang, selain memiliki banyak kesamaan, memiliki juga banyak perbedaan bahkan pertentangan. Masing-masing pandangan mengklaim diri sebagai pandangan yang paling benar dan sah. Kita mengalaminya sepertinya kesatuan tatanan normtif sudah tidak ada lagi. Berhadapan dengan situasi, semacam in, kita akhirnya bertanya, tapi yang kita tanyakan bukan hanya apa yang merupakan kewajibanm kita dan apa yang tidak, melainkan manakah norma-norma untuk menentukan apa yang harus dianggap sebagai kewajiban.

2. Timbulnya masalah-masalah etis baru.
          Ciri lain yang menandai zaman kita adalah timbul masalah-masalh etis baru, terutama yang disebabkan perkembangan pesat dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi khusunya ilmu-ilmu biomedis. Telah terjadi manipulasi genetis, yakni campur tangan manusia atas perkembangbiakan gen-gen manusia. Masalah cloning dan penciptaan manusia super sangatlah mengandung masalah-masalah etis seru dalam kehidupan manusia. Bagaimana sikap kita menghadapi perkembangan seperti ini? Disinilah kajian pertanggungjawaban etika diperlukan.

3. Munculnya kepedulian etis yang semakin universal.
          Ciri berikutnya yang menandai zaman kita adalah adanya suatu kepedulian etis yang semakin univeral. Diberbagai tempat atau wilayah di dunia kita menyaksikan gerakan perjuangan moral untuk masalah-masalah bersama umat manusia. Selain pergerakak-pergerakan perjuangan moral yang terorganisir seperti dalam bentuk kerjasama antar Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat , antar Dewan Perwakilan Rakyat dari beberapa negara atau Serikat-serikat Buruh, dan sebagainya, juga kita dapat menyaksikan adanya suatu kesadaran moral universal yang tidak terorganisir tapi terasa hidup dan berkembang dimana-mana. Ungkapan-ungkapan kepedulian etis yang semakin berkembang ini tidaklah mungkin terjadi tanpa di latarbelakangi oleh kesadaran moral yang universal. Gejala yang paling mencolok tentang kepedulian etis adalah Deklarasi Universal tentang Hak-hak Azasi Manusia, Yang diproklamirkan oleh Persatuan Bangsa Bangsa (UNO) pada 10 Desember 1948. Dengan kepedulian etis yang universal ini, maka pluralisme moral pada bagian pertama diatas dapat menjadi persoalan tersendiri.

4. Hantaman gelombang modernisasi
          Kita sekarang ini hidup dalam masa transformasi masyarakat yang tanpa tanding. Perubahan yang terus terjadi itu muncul dibawah hantaman kekuatan yang mengenai semua segi kehidupan kita, yaitu gelombang modernisasi. Yang dimaksud gelombang modernisasi disini bukan hanya menyangkut barang atau peralatan yang diproduksi semakin canggih, melainkan juga dalam hal cara berpikir yang telah berubah secara radikal. Ada banyak cara berpikir yang berkembnag, sepeti rasionalisme, individualisme, nasionalisme, sekularisme,materialisme, konsumerisme, pluralisme religius, serta cara berpikir dan pendidikan modern yang telah banyak mengubah lingkungan budaya, social dan rohani masyarakat kita.

5. Tawaran berbagai ideologi
          Proses perubahan social budaya dan moral yang terus terjadi, tidak jarang telah nmembawa kebingungan bagi banyak orang atau kelompok orang. Banyak orang merasa kehilangan pegangan, dan tidak tahu harus berbuat atau memilih apa. Situasi seperti ini tidak jarang dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk menawarkan ideology-ideologi mereka sebagai jawaban atas kebingungan tadi. Ada cukup bsnysk orsng ysng terombang-ambing mengikuti tawaran yang masing-masing mempunyai daya tarik sendiri itu. Disini etika dapat membantu orang untuk sanggup menghadapi secara kritis dan objektif berbagai ideology yang muncul. Pemikiran kritis dapat membantu untuk membuat penilaian rasional dan objektif, dan tidak mudah terpancing oleh berbagai alas an yang tidak mendasar. Sikap kritis yang dimaksud disini, bukan suatu sikap yang begitu saja menolak ide-ide baru atau juga begitu saja menerimanya, melainkan melakukan penilaian kritis untuk memahami sejauh mana ide-ide baru itu dapat diterima dan sejauh mana harus dengan tegas ditolak.

6. Tawaran bagi agamawan
          Etika juga diperlukan oleh para agamawan untuk tidak menutup diri terhadap persoalan-persoalan praktis kehidupan umat manusia. Di satu pihak agama menemukan dasar kemantapan mereka dalam iman kepercayaan mereka, namun sekaligus diharapkan juga mau berpartisipasi tanpa takut-takut dan menutup diri dalam semua dimensi kehidupan masyarakat yang sedang mengalami perubahan hampir disegala bidang. Walau etika tidak dapat menggantikan agama, namun etika tidaklah bertentangan dengan agama, dan bahwa agama memerlukan etika. Alasan yang bias dikemukan bagi pentingnya etika untuk agama adalah, pertama: masalah interprestasi terhadap perintah atau hukum yang termuat dalam wahyu Tuhan, terutama seperti tertuang dalam kitab suci keagamaan. Banyak ahli agama, bahkan seagama sekalipun, sering berbeda pendapat tentang apa yang sebenarnya mau diungkapkan dalam wahyu itu.  Kedua: mengenai masalah-masalah moral yang baru, yang tidak langsung dibahas dalam wahyu itu sendiri. Bagaimana menanggapinya dari segi agama masalah-masalah moral yang pada waktu wahyu diterima belum dipikirkan. Untuk mengambil sikap yang dapat dipertanggung jawabkan terhadap masalah-masalah yang timbul kemudian, diperlukan etika. Disini etika dapat dimengerti sebagai usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya yang rasional untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik. Usaha seperti ini tidak bertentangan dengan iman karena akal budi juga merupakan anugerah besar dari sang Pencipta kepada umat manusia.



C.  Pengertian Terapan Etika
          Terapan etika adalah, dalam kata-kata Brenda Almond, pendiri Society for Filsafat Terapan, "pemeriksaan filosofis, dari sudut pandang moral, isu-isu tertentu dalam kehidupan pribadi dan publik yang penting dari penilaian moral". Dengan demikian istilah yang digunakan untuk menggambarkan upaya untuk menggunakan metode filsafat untuk mengidentifikasi saja benar secara moral tindakan dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Terapan etika dibedakan dari etika normatif , yang menyangkut apa yang orang harus percaya untuk menjadi benar dan salah, dan dari meta-etika , yang menyangkut sifat pernyataan moral. Sebuah tipologi muncul untuk diterapkan etika (Porter, 2006) menggunakan enam domain untuk membantu meningkatkan organisasi dan isu-isu sosial pada tingkat nasional dan global:
Ø Keputusan etika , atau teori-teori etika dan proses pengambilan keputusan etis
Ø Etika profesional , atau etika untuk meningkatkan profesionalisme
Ø Klinis etika , atau etika untuk meningkatkan kebutuhan dasar kesehatan kita
Ø Etika bisnis , atau moral berbasis individu untuk meningkatkan etika dalam organisasi
Ø Organisasi etika , atau etika di kalangan organisasi
Ø Etika sosial , atau etika antar bangsa dan sebagai satu unit secara global

Etika terapan dalam masyarkat modern sekarang ini cenderung disibukkan dengan banyak persoalan yang penting dan mendesak. Ada lima cabang etika terapan yang paling mendapat banyak  perhatian masa sekarang ini, yaitu:
          1.Etika kedokteran
          2.Etika bisnis
          3.Etika tentang perang-damai
          4.Etika lingkungan hidup
          5. Etika profesi
          Kelima macam etik menjadi menarik untuk dikaji karena dibidang-bidang ini berlangsung perkembangan yang paling pesat, sehingga terutama disitu kita berhadapan dengan persoalan-persoalan etis yang perlu segera ditangani dan dicari pemecahannya.Cara lain untuk mengklasifikasikan etika terapan adalah membedakan antaramakroetika, mesoetika,dan mikroetika. Makroetika membahas masalah-masalahmoral dalam skala besar, artinya masalah-masalah yang menyangkut suatu bangsaseluruhnya atau bahkan seluruh umat manusia. Contoh dari makroetika adalahmasalah ekonomi, keadilan, lingkungan hidup, alokasi sarana kesehatan, dan lain-lain. Sedangkan mesoetika menyoroti masalah-masalah etis yang berkaitan dengankelompok atau profesi, misalnya kelompok ilmuwan, profesi, dll. Dan mikroetikamembahas pertanyaan-pertanyaan etis dimana individu terlibat, seperti kewajiban psikolog terhadap kliennya (kewajiban mengatakan yang benar, kewajiban menyimpan rahasia, dsb).
(a)  Etika Propesi
    Keiser dalam (Suhrawardi Lubis, 1994: 6-7), etika profesi adalah sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan profesional terhadap masyarakat dengan ketertiban penuh dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat. Sedang Magnis Suseno (1991: 70) membedakan profesi sebagai profesi pada umumnya dan profesi luhur. Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian khusus.
Penerapan etika dalam profesi:
ü Nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan orang saja, tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling kecil yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa. Dengan nilai-nilai etika tersebut, suatu kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan bersama.

ü Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi landasan dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya maupun dengan sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini sering menjadi pusat perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan tertuang secara tertulis (yaitu kode etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan para anggotanya.
ü Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian para anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah disepakati bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi kemerosotan etik pada masyarakat profesi tersebut. Sebagai contohnya adalah pada profesi hukum dikenal adanya mafia peradilan, demikian juga pada profesi dokter dengan pendirian klinik super spesialis di daerah mewah, sehingga masyarakat miskin tidak mungkin menjamahnya

Prinsip-Prinsip Etika Profesi:
1. Tanggung jawab
     - Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
     - Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada
      umumnya.
2.   Keadilan.
      Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
3.  Otonomi.
      Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri kebebasan dalam
     menjalankan profesinya.


(b)         Etika Bisnis
      Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijaksanaan, institusi, dan perilaku bisnis (velasquez). Pengetahuan tentang tata cara ideal pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara universal dan secara ekonomi/sosial, dan penerapan norma dan moralitas ini menunjang maksud dan tujuan kegiatan bisnis (muslich).
          Setelah melihat perlunya etika bisnis kita perlu meninjau lebih jauh mengenai etika
bisnis serta sumbangan yang diberikan. Etika bisnis boleh dikatakan merupakan suatu bidang etika khusus (terapan) yang baru berkembang pada awal tahun 1980-an. Dan sampai sekarang kebanyakan telaah tentang etika bisnis berasal dari Amerika. Dalam semua bidang etika bisnis membantu para pelaku bisnis untuk mendekati masalah-masalah bisnis dengan sentuhan moral. Etika bisnis membantu para manajer, pelaku bisnis lainnya untuk menangkap hal yang tidak bisa ditangkap dengan mata ekonomi manajemen murni dan memecahkan banyak banyak persoalan dengan menggunakan pendekatan yang lebih dari sekedar pendekatan ekonomi manajemen. Etika bisnis menggugah bahwa dalam melakukan bisnis, kita tetap bertindak dan berperilaku sebagai manusia. Namun, sebagai etika khusus atau etika terapan, prinsip-prinsip dalam etika bisnis sesungguhnya adalah penerapan dari prinsip etika pada umumnya.
1.    Prinsip Otonomi
Sikap dan kemampuan manusia untuk bertindak berdasarkan kesadaran sendiri tentang apa yang dianggap baik untuk dilakukan. Untuk bertindak secara otonom diandaikan ada kebebasan untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan keputusan itu.
2.    Prinsip Kejujuran
Sekilas kedengarannya aneh bahwa kejujuran merupakan suatu prinsip etika bisnis. Kini para praktisi bisnis dan manajemen mengakui bahwa kejujuran merupakan suatu jaminan dan dasar bagi kegiatan bisnis.
3.    Prinsip Keadilan
4.    Prinsip menuntut agar kita memperlakukan orang lain sesuai dengan haknya. Hak
orang lain perlu dihargai dan tidak boleh dilanggar.


      Di depan sudah dikatakan bahwa bisnis tetap mengenal etika, dari semua keterangan diatas kita juga perlu mengetahui masalah-masalah yang dihadapi etika bisnis. Dari sini kita perlu mengetahui hubungan-hubungan dalam etika bisnis.
a Hubungan Primer
 Meliputi semua hubungan langsung yang diperlukan suatu perusahaan untuk
    melaksanakan fungsi dan misinya yang utama, yaitu memproduksi barang dan jasa
    dalam masyarakat.
b.Hubungan Sekunder
    Meliputi berbagai hubungan dengan kelompok-kelompok masyarakat yang
    merupakan akibat dari pelaksanaan fungsi dan misi utama perusahaan.

Etika pergaulan bisnis dapat meliputi beberapa hal antara lain adalah:
a.   Hubungan antara bisnis dengan pelanggan / konsumen.
Hubungan antara bisnis dengan pelanggannya merupakan hubungan yang paling banyak dilakukan, oleh karena itu bisnis haruslah menjaga etika pergaulannya secara baik dalam hal ini. Adapun pergaulannya dengan pelanggan ini dapat disebutkan di sini, misalnya sebagai berikut.

b.   Hubungan dengan karyawan
Manajer yang pada umumnya selalu berpandangan untuk memajukan bisnisnya seringkali harus berurusan dengan etika pergaulan dengan karyawannya. Pergaulan bisnis dengan karyawan ini meliputi beberapa hal yaitu: Penarikan (recruitment), Latihan (training), Promosi atau kenaikan pangkat, transfer, demosi (penurunan pangkat) maupun lay-off atau pemecatan/PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

c.   Hubungan antar bisnis
Hubungan ini merupakan hubungan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain. Hal ini bisa terjadi hubungan antara perusahaan dengan pesaingnya, dengan penyalurnya, dengan grosirnya, dengan pengecernya, agen tunggalnya maupun distributornya. Dalam kegiatan sehariharitentang hubungan tersebut sering terjadi benturan-benturan kepentingan antar keduanya.

d.   Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan
Hubungan dengan lembaga keuangan terutama Jawatan Pajak pada umumnya hubungan pergaulan yang bersifat finansial. Hubungan ini merupakan hubungan yang berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan yang berupa neraca dan laporan rugi laba misalnya. Laporan finansial disusun secara benar sehingga tidak terjadi kecenderungan ke arah penggelapan pajak.

Adapun beberapa hal yang mendasari perlunya etika dalam kegiatan bisnis :
a. Selain mempertaruhkan barang dan uang untuk tujuan keuntungan, bisnis juga
    mempertaruhkan nama, harga diri, bahkan nasib manusia yang terlibat di dalamnya.
b.  Bisnis adalah bagian penting dalam masyarakat.
c. Bisnis juga membutuhkan etika yang setidaknya mampu memberikan pedoman
   bagi
pihak-pihak yang melakukannya. Bisnis adalah kegiatan yang mengutamakan rasa
    saling percaya. Dengan saling percaya, kegiatan bisnis akan berkembang baik. Dunia
    bisnis yang bermoral akan mampu mengembangkan etika yang menjamin kegiatan.
Contohnya  persaingan bisnis dalam suatu produk dimana etika yang diterapkan adalah persaingan bisnis yang sehat tanpa merugikan pihak pesaingnya dengan mematuhi aturan bisnis yang berlaku.
Menurut Muslich ada beberapa prinsip-prinsip dalam etika bisnis, yaitu:
• Prinsip Otonomi
  Memandang bahwa perusahaan secara bebas memiliki wewenang sesuai dengan bidang
  yang dilakukan dan pelaksanaannya dengan visi dan misi yang dimilikinya.
• Prinsip Kejujuran
• Prinsip Tidak Berniat Jahat
• Prinsip Keadilan
• Prinsip Hormat Pada Diri Sendiri

Selain prinsip-prinsip di atas, dalam menciptakan etika bisnis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya :
1. Pengendalian Diri
2. Pengembangan Tanggung Jawab
3. Mempertahankan jati diri
4. Menerapkan konsep "pembangunan berkelanjutan"
5. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi)
6. Mampu menyatakan yang benar
7. Menumbuhkan sikap saling percaya
8. Konsekuen dan konsisten
9. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati
10.Menciptakan persaingan yang sehat
11.Perlu adanya Undang-undang mengenai etika bisnis.

KESIMPULAN
          Etik terapan sangat berpengaruh dalam mempengaruhi perilaku atau kebiasaan manusia khususnya skarang ini karena merupakan sebagai aturan pegangan, pedoman, dan orintasi prektis bagi setiap orang dalam kehidupan dan kegiatan khusus. Etika terapan sendiri juga menyoroti suatu profesi atau masalah. Salah satu ciri khas etika terapan sekarang ini serta berpengaruh dan bekerjasama dengan disiplin-disiplin ilmu-ilmu lain . Dan meneropong perilaku kehidupan manusia sebagai mahluk sosial yang memiliki etika dalam berperilaku. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk aturan (kode) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik.